Posts tagged ‘pekanbaru’

Segera, aku akan meninggalkanmu

Dalam diam yang terusik
ada namamu yang begitu sejuk
memeluk hatiku
memenjarakan nafasku
dalam cinta

Aku mencoba mengerti
mengapa langkah kita tak pernah sama
tak pernah satu

Kita seiring sejalan
tapi tak pernah bertemu

Ternyata cinta bukan lagi alasan untuk kita
terus bersama
ketika hidup tak begitu ramah
padaku
padamu
pada kita

Cinta adalah kekuatan yang pernah buat kita tersenyum

tapi juga yang memisahkan kita

Dalam diam yang terusik
selalu ada namamu yang begitu sejuk
selalu memeluk hatiku
selalu dalam nafasku

aku cinta padamu

tapi segera, aku meninggalkanmu.

Pekanbaru, 28 Juli 2010


Malam itu.
Bulan terang di atas kamarku.
Kami bertatapan.
Tak tidur aku dibuatnya.
Dimandikan cahaya.

Malam itu.
Bulan terang di mataku.

Pekanbaru, 8 Januari 2010


Salam
Semoga Allah melindungimu dengan kasih dan sayang-Nya
(karena aku tidak bisa melindungimu dengan kasih sayangku, aku dan Ibu terpisah jarak yang tak dekat)

Tersenyumlah
Sebab aku tahu kau pasti menangis saat ini
(kau selalu begitu, tak peduli bahagia atau duka, air matamu mudah sekali mengalir, ah… seandainya aku bisa memberikan sapu tangan padamu wahai Ibu. Kita berdua terpisah jauh sekarang)

Apa kabar
Kau pasti menjawab: Ibu baik
(sekarang aku bisa membayangkan kau tersenyum. Ibu baik. Selalu seperti itu. Apa benar kau selalu bahagia Ibu? Kalau begitu ingin rasanya aku menjadi Ibu saja. Haha. Tapi aku kan laki-laki. Hhh…)

Bagaimana pula dengan tanganmu
Kau pernah menanyakan padaku tentang itu
Katamu pergelangan tanganmu terkadang sakit jika digerakkan
(hh… aku belum jadi dokter Ibu. Dan jika pun sudah, aku tak akan pernah berharap tanganmu benar-benar sakit. Jangan sampai kau sakit. Ya…?)

Hhh…
Sepertinya aku terlalu banyak mengeluh
(oh ya, jangan bilang kalau kau sedang meminjam kacamata Ayah. Ibu yang aneh. Ibu lebih cocok memakai kacamata Ayah. Bagaimana bisa itu terjadi?)

Oh ya
Aku baik
Nilaiku juga lumayan
Meski berat badanku tidak juga bertambah
(untuk yang terakhir ini aku terkadang stress, aku terlihat seperti papan triplek saja, hahaha… sssttt… jangan bilang siapa-siapa ya)

Calon menantu Ibu juga baik
Haha
Aku bercanda
Bagaimana bisa aku memikat gadis
(seandainya bisa, aku ingin gadisku kelas akan secantik Kakak, kemudian akan sebaik Ibu)

Semoga hari-harimu menyenangkan
Jangan sering kecapean
(aku membayangkanmu memakai ikat kepala dari handuk kecil. Itu tandanya kau sedang sakit kepala berat. Hhh… Ibu, apa aku sering membuatmu sakit kepala?)

Begini saja kabar dariku
Sampai di sini dulu suratku
Aku akan mengirimimu lagi kabar-kabar terbaru
Selama masih ada waktu
Masih ada rindu
Takkan pernah hati ini lepas dari memikirkanmu
Ibu…

Salam
(anak laki-lakimu. Dia masih saja tidur seperti mati)

Pekanbaru. 7 Desember 2006


Aku telah mendengar semua curahan hatimu
Aku telah membaca seluruh isi suratmu
Aku juga telah memahami maksud dari semua tentangmu
Aku ingin kau tahu aku mengerti situasi yang sedang terjadi ini

Kau mengatakan bahwa dengan mengingatku maka hatimu tak lagi gundah
Kau meyakinkan bahwa kau percaya aku sudah bisa diandalkan dalam hidup ini
Kau juga berharap aku dapat tidak lagi berdiam diri jika kita sedang bertemu
Kau bilang kalau kau tidak ingin mendapat jawaban yang menyakitkan hatimu

Jadi tinggallah aku dengan kebingungan ini

Aku sebenarnya ingin mengatakan bahwa aku telah menyerahkan hatiku pada seseorang
Aku sebenarnya ingin menyampaikan bahwa aku sudah menetapkan hatiku pada seseorang
Aku sebenarnya ingin kau tahu aku telah menemukan seseorang yang ingin aku bersamanya pada sisa hidupku
Aku sebenarnya ingin kau tahu bahwa aku telah memutuskan untuk tidak memikirkan seseorang yang lain lagi

Hatiku telah ada yang memiliki
Pandanganku telah ada yang mengisi
Perasaanku jauh lebih tenang jika mendengar suaranya
Aku bisa merasakan dadaku menghangat jika sedang memikirkannya
Aku bisa tersenyum sendiri jika mengingat apa yang telah kami lalui

Aku sebenarnya ingin mengatakan
bahwa aku tidak siap untuk memulai dengan dirimu
bahwa aku tidak merasa kita sesuai
bahwa aku tidak merasakan hatiku membalas cintamu
bahwa aku tidak bisa menjadi kekasihmu

Sekali lagi aku bingung
Kau tidak ingin mendengar jawaban yang menyakitkan

Maka seandainya aku diam saja
Bisakah kau mengerti?
Bisakah kau pahami?

Aku menyimpan jawaban yang tak ingin kau dengar itu.
Maaf.

Pekanbaru, 26 November 2006


Aku telah melihatnya menangis
melihatnya tertawa
Aku telah melihatnya dalam isak dan bahagia

Aku pernah mendengarnya mengeluh
mendengarnya berdoa
Aku pernah mendengarnya tanpa suara tanpa kata

Aku yang telah pernah bersamanya
Aku yang kini tak lagi bersamanya
Aku yang dulu tak tahu arti sebenar dari ikatan rasa ini
Ingin aku memelukmu
Ingin sekali aku
Sungguh-sungguh ingin

Ibu.
Jika waktu yang telah kita lalui tak cukup untuk lekatkan aku di hatimu, kau yang melekatkannya
Jika seusia kanakku tak ada yang bisa ku beri sebagai ganti atas jerihmu, kau yang memberi hadiah

Aku takkan bisa merasakan lagi saat mungilku di dalam dekapan lembut hangatmu
Betapa pun besar inginku

Maka izinkanlah aku berkata padamu duhai ibu
Cahaya hati pengisi pandanganku selama ini

Anakmu merindukanmu dari kejauhan
Anakmu mencintaimu sejauh mata memandang
Karena aku anakmu
Aku anak yang beruntung memilikimu
sebagai Ibu

Pekanbaru, 6 Desember 2006


Aku lelah tak jua berhasil memperbaiki diri
Sebenarnya sudah sejak lama aku ingin berhenti begini
Hanya aku bingung
Di mana aku harus berhenti?
Baru saja aku merasakan secercah harapan yang begitu manis
Kini ia telah hilang lagi
Aku terjatuh lagi

Aku tidak tahu harus memulai dari mana lagi melangkahkan kaki
Karena sepertinya yang ku lakukan hanyalah membentuk suatu putaran
Lagi-lagi aku kembali ke titik yang sama

Wahai.
Berilah aku jalan yang lurus
Jalan yang tak ingin lagi aku kembali ke belakang
Karena di belakang sanalah aku menyimpan semua rahasia
Semua cerita
Semua kenangan
Semua dosa

Benarlah kata jika kita ini akan merasakan pahit manis hidup
Getirnya sebuah konsekuensi atas nafas yang masih bisa dihela
Seberat inikah takdirku?
Seberat inikah?
Atau ini sesungguhnya sangat ringan?
Aku terlalu bingung dan takut untuk memikirkannya
Terlalu lelah sebabnya

Jalan yang mendaki telah berhasil aku lalui kemarin
Senyuman manis dan bayangan indah begitu menggelora di jiwa
Tapi apa daya
Aku tidak sesempurna langkah awal
Semangatku perlahan-lahan pun memudar

Wahai.
Berilah aku bekal semangat yang takkan habis
Berilah aku cahaya yang takkan pernah redup

Dan bantulah aku menemukannya

Jika itu adalah hal yang buruk untukku
Maka jauhkanlah
Jika itu adalah hal yang baik bagiku
Ku mohon dekatkanlah

Jauhkan aku sejauh-jauhnya
Dekatkan aku sedekat-dekatnya

Karena sesungguhnya aku ini sangat lemah
Mudah goyah
Berilah aku penguat hati
Berilah aku jalan yang lurus
Jalan orang yang terbaik
Bukan jalan orang yang durjana
dan tak kenal akan dosa

Setya AR

Pekanbaru. Malam ketika hati ini tak lagi menangis. Ia sudah hancur. 28 November 2006.


Senja mulai turun, tirainya merah jingga
Aku menatap kaca jendelaku yang berembun
Ku cium bau tanah dan udara yang bercampur pada angin

Sudah genap seminggu aku tak melihatmu dari kamarku
Hujan tlah gantikanmu tuk sirami dedaunan bunga yang kau tanam
Sesungguhnya aku rindu

Malam mulai pekat, menebar dingin
Aku mendengar kaca jendelaku yang berisik tertimpa air jatuh
Kiranya hujan turun lagi

Bulan ini basah
Bulan ini penuh kehidupan
Tapi justru bunga di dalam hatiku yang mengering
Sesungguhnya aku rindu untuk melihatmu lagi

Aku terbangun pada akhir Desember
Menyusun kembali segenap sisa mimpi yang tersisa
Membuka tirai jendelaku yang lembab
Ku harap melihatmu pagi ini
Aku rindu melihatmu setiap hari
Sungguh

Setya AR

Pekanbaru, 2 Januari 2007


Ketika lelah tak jua lagi bisa menutup mata dan kantuk ini
Ketika penat yang tersisa membakar seluruh rasa untuk bicara
Sedang langit makin mesra dengan bintang dan awan
Sedang binatang malam telah masing-masing berlalu di lorong-lorong sempit
Isi kepala ini seperti teraduk-aduk dalam nampan penggorengan
Aku sesungguhnya letih sekali saat ini

Namun tak bisa juga malam menaklukkan
Namun tak hendak juga jiwa ini menyerah
Maka ku coba untuk tawar menawar dengan hati
Maka aku mengikatkan tubuh ini pada sandaran kursi
Sementara itu bunyi-bunyi semakin jelas saja terdengar
Sementara itu tak bisa lagi ku bedakan dentum genderang dengan detik arloji
Semuanya seperti sama saja
Begitulah jika jiwa ini telah teramat mengendap
Beginilah jika hati ini sudah terlalu lama mengeras
Aku bukannya tidak ingin berhenti untuk memikirkan cintaku yang kandas
Aku sebenarnya ingin sekali barang sejenak melupakan caranya membalas senyumku
Tapi entahlah
Bahkan dalam kesengsaraan jiwa di tengah malam buta ini
Bayangnya tergambar dengan lebih jelas dari sekedar bau tubuhku sendiri

Aku adalah bayangan yang merangkak di tepian meja tulis
Aku adalah penyair malam
Sedang cintaku adalah tinta yang sialnya tak mau mengering
Sedang rinduku adalah lembaran kertas yang tiada habis-habisnya
Sedang kasihku adalah lautan tempatku membuang semua isi hati ini
Semua rasa teramat inginku pada pemilik senyum terindah dalam hatiku ini
Bahwa betapa inginnya aku menjalani hari-hariku bersamanya
Entahlah
Apa hendak dikata lagi
Bahkan malam ini saja aku masih sendiri
Sepertinya takdir indah itu tak ingin mendekat padaku
Tak tertulis dalam guratan garis tanganku

Yang tersisa dari tubuh usang ini hanyalah semangat untuk terus memikirkannya
Aku masih saja bisa memikirkan dirinya melebihi kemampuanku untuk tidak memikirkannya
Di tengah keletihan
Di tengah keterasingan
Di tengah sepi
Di antara bayang-bayang malam yang memekat
Cintaku menjelma dengan sangat hidup
Ia memberiku nafas
Ia memberiku nafasnya
Seperti memberi minyak pada pelita yang hampir padam
Sayangnya aku hanya mampu bertahan untuk terus memikirkannya
Hampir saja aku gila dalam kegilaanku padanya
Sebab sesungguhnya aku telah letih sekali malam ini
Telah letih sekali
Telah penat sangat
Hampir melekat
Mengeras
Mengendap
Dan rinduku pun kian tak berbentuk

Dalam keheningan malam yang kian merayap
Pada sandaran kursi yang masih menopang punggung ini
Aku bercerita tentang cintaku yang tak tersampaikan
Aku bercerita tentang kasihku yang tak tergantikan

Dalam hati ini ia ada
Dalam mata ini ia ada
Sehingga kini pun aku seperti melihat dia

Ketika hari telah larut
Ketika larut itu tak jua menyurut
Maka izinkanlah aku tetap berkata-kata
Sebagai penyair malam
Aku hanya punya malam
Dan malam ini pun akan tetap menjadi milik dia
Selalu seperti itu
Malam ini akan menjadi milik dia
Dia pemilik malam
Malam milik dia
Penyair malam juga milik dia
Entahlah.

Setya AR

Pekanbaru. 1 November 2006


Lelaki itu telah berfikir lama sekali
untuk sekedar mengungkapkan perasaannya
Hatinya diam-diam telah terpaut
tak bisa ia melepasnya lagi
Seumpamanya pun bisa
ia takkan rela lagi sekarang

Lelaki itu telah lama berdiam diri
memikirkan nasibnya yang terkadang beku
antara keping-keping hatinya yang berserak
ia temukan lagi cara untuk berdiri

Lelaki itu adalah lelaki yang pernah bahagia
Ia bukan pemuda lugu yang pertama kali jatuh cinta
Tapi tidak pula ia seorang penggoda
Hanya sesekali saja ia merasa

Lelaki itu dulu sekali telah sakit hati
Lelaki itu telah cukup lama sendiri
Ku rasa tentu wajar kini
jika ia perlu cukup banyak waktu
untuk bertanya jujur pada hati

Setya AR

Pekanbaru, LAB, 23 Mei 2006


Pelan sekali rasa itu hadir
Seumpama tenangnya teluk yang dalam
Tak ku duga
Sekalipun

Tidak adil rasanya kalau terus-terusan berharap
Sementara hati ini tak jua pernah menetap
Laksana baling-baling
Aku tertiup dari berbagai penjuru

Wahai angin barat
Adakah engkau yang menyentuhku?
Belum juga ku putar kendali kapal padamu
Sementara hariku sebentar lagi berlalu

Maaf pada arah yang lain
Terlalu sulit tentukan arah di tengah kebisuan
Laut yang justru bingungkanku saat ia begitu damai

Tak bisa lagi
Harapkan aku tak hilang kendali
Wahai angin delapan penjuru!
Pelan sekali rasa itu datang
Diam-diam ia memelukku

Setya AR

Pekanbaru. LAB. 23 Mei 2006