Senangnya.

Semoga bisa kembali menulis lebih banyak. See ya.

22

Happy birthday. Yea….:D:D

Laptop saya sedang bermasalah…

Semoga cepat sembuh buat laptopnya, semoga ujian radiologi berjalan lancar, semoga bisa tetap sehat dan bersemangat…

Selamat berulang tahun bagi yang berulang tahun hari ini.
:)

Aku berpijak di tepian waktu yang mengabur
Memegangi nafas
Mencoba melangkah
Satu kali lagi
Satu hari lagi
Ku yakinkan hati untuk berbuat
Karena hidup benar-benar sekali
Di tepian waktu ini aku menunggu
Ia mengecupku

Pekanbaru, 25 April 2010

Kakak, abang.

Mungkin aku adik yang tertutup kepada kakak dan abang. Sekedar untuk kakak dan abang tahu, ketertutupan aku ini karena kewibawaan kalian yang sangat aku hormati.

Mungkin aku juga tidak sepintar, rajin, dan patuh seperti kakak dan abang. Tapi aku janji akan berusaha menjadi seperti kalian.

Doakan aku semoga berhasil melewati ujian hari ini.

Aku sayang kakak dan abang.

sent 29/03/2010 06.32 am.

[dengan perubahan seperlunya secara adik saya ini mengirimnya dengan mode tulisan anak gaul yang bikin saya mengelus dada]

—————————————————————————————————

1. Saya jadi geli, haru, sedih, bahagia, serta sempat termenung setelah menerima sms ini. Kadang suatu kejujuran yang sederhana seperti ini bisa membuat kita kembali teringat akan indahnya hidup sebagai manusia. Really. I am happy to have her as my little sister.

2. Saya nggak merasa punya wibawa sebenarnya, hehe. Tapi memang kami jarang bisa berkumpul bersama sejak masing-masing pisah karena harus sekolah di tempat yang berbeda. Komunikasi via telpon atau sms juga jarang. Satu-satunya ikatan yang masih terasa kuat hanya rasa sayang di hati ini. Tidak akan terganti.

3. Mudah-mudahan dia tidak marah karena isi sms-nya saya publikasikan seperti ini. :) . Saya cuma mau pamer punya adik, hehe.

Good morning all.

Assalamu’alaikum.

Kemarin pagi, ketika sedang sarapan di depan rumah sakit, saya sempat tersenyum sendiri saat mendengar potongan dialog dari kakak penjual sarapan [KPS] dan temannya yang datang [TYD].

Begini ceritanya…

TYD: [mengendarai motor, memarkir sembarangan]. Hai… pagi…!
KPS: [tersenyum] Hai… pagi juga… ish… harusnya assalamu’alaikum lah ya…hehe..
TYD: [cengar-cengir] iya sih… tapi kalau pakai assalamu’alaikum nanti dikirain minta sumbangan lagi.

Well, adegannya merupakan rekaanku saja, tapi kalimatnya memang kurang lebih begitu.

Kalau pakai assalamu’alaikum dikira minta sumbangan?

…………………………………………

Aku pikir teman penjual sarapan di dalam cerita di atas pasti sedang bercanda. Buktinya mereka tertawa setelah itu. Tapi hal tersebut sempat mengerutkan keningku dan membuatku bertanya: seberapa jauhkah kita sudah menggunakan salam dalam kehidupan sehari-hari?

Apa hanya para peminta-minta yang mengucapkan salam sehingga jika kita mengucapkannya secara otomatis orang akan menyangka kita sedang mengemis?

Seorang temanku pernah mengeluhkan kebiasaan tidak menggunakan salam dan justru menggunakan kata sapa biasa seperti ’selamat siang’, ’selamat pagi’, ‘dan segala macamnya’. Waktu itu aku tidak ikut-ikutan mengeluh dan mengatakan bahwa sesungguhnya salam jauh lebih dahsyat daripada kata sapa yang biasa kita dengar.Sehingga justru menjadi masalah bagiku jika ucapan salam itu dilemparkan kesana kemari tanpa arti yang jelas.

Bukan berarti aku lebih memilih menggunakan hai-hoi-woi-hey daripada salam ketika sedang menyapa orang lain. Tapi karena salam itu adalah doa bagi orang yang kita sapa, sepatutnya kita tidak langsung meninggalkan orang yang kita sapa begitu saja ketika sudah mengucapkannya.

Aku sangat senang jika bisa berjabat tangan, mengucapkan salam, jika perlu berpelukan dan lalu saling menanyakan kabar.

Terlalu ribet? Mungkin. Tapi itu hanya karena sudah jadi kebiasaan kita yang sering menyederhanakan pertemuan dengan saudara-saudara kita. Suatu kebiasaan yang seharusnya diubah. Karena ujung-ujungnya, kita membatasi penggunaan salam hanya pada saat mengetok pintu tetangga, menjawab telepon, mengirim sms, tanpa menyadari bahwa ada konsekuensi yang lebih besar setelah mengucapkan salam tersebut. Tanpa pernah memikirkan apa yang sedang kita ucapkan saat mengucapkan salam tersebut.

Karena seharusnya sebelum melakukan suatu ibadah dengan cara yang benar, kita meniatkannya untuk yang Allah pula bukan?

Mengucapkan salam adalah hal yang benar.
Melakukannya karena Allah jangan pernah dilupakan.

…………………………………………..

Untung saja si TYD tidak mengatakan: … tapi kalau pakai assalamu’alaikum nanti dikira teroris…

*tapi mungkin juga hal ini terjadi karena aku sedang di tempat makan, tahu sendiri kalau banyak pengemis di sekitar tempat makan…huffh…

Beberapa kali dalam kasus penyakit yang ku temui di poliklinik penyakit kulit dan kelamin selama sepuluh hari terakhir ini, sang ibu ataupun ayah yang membawa anaknya berobat memberikan pernyataan kemungkinan anaknya tertular penyakit dari tempat penitipan ataupun tempat bermain anaknya sehari-hari.

Beberapa penyakit kulit memang memiliki ciri gampang menular pada orang-orang yang berkumpul, sehingga untuk memastikan kita bisa sembuh secara sempurna, kadang kita harus memastikan asal penularannya dan menghindari untuk kontak selanjutnya agar tidak kambuh lagi penyakit kulitnya.

Aku jadi memperhatikan masalah ini karena beberapa waktu sebelumnya aku sempat mendengar kalau Kak Dina juga mencari pengasuh anak untuk Asma jika ia sedang ada urusan dan tidak bisa menjaga Asma. Saat itu Ibu memberi nasihat agar memilih pengasuh yang benar-benar terpercaya karena biar bagaimanapun yang kita titipkan itu adalah anak kita, bukan sekedar barang seperti helm atau sepatu yang kita titipkan di penitipan barang.

Aku yang sejujurnya menyukai anak kecil harus mengakui kalau aku tidak tahan berlama-lama dengan mereka. Aku tidak bisa begitu lama menahan diri untuk berada dalam dunia mereka yang begitu cepat berubah-ubah — kadang mereka ingin bermain kereta, bermain bola, membaca buku, duduk-duduk saja, diceritakan sesuatu, makan es krim, atau sekedar memanjat pohon cermai di belakang rumah dan berlama-lama memandangi langit.

Sebenarnya mungkin dulu aku juga begitu, tapi sekarang tidak lagi. Aku sekarang lebih suka tidur jika ada waktu luang. Betapa buruknya, hehe.

Kembali kepada masalah pengasuhan anak tadi, aku jadinya cukup kagum kepada mereka yang punya kemampuan untuk betah berlama-lama dengan anak-anak. Terlepas apakah mereka melakukan itu karena dibayar ataupun karena mereka suka, tapi yang jelas, bagi para pengasuh anak yang memang mengerjakan tugasnya, aku salut saja, karena seperti yang ku katakan tadi, aku tidak tahan untuk melakukan hal yang sama. Serta satu hal yang penting, berarti mereka tidak ditolak oleh anak-anak tersebut. Hebat bukan?

Pernah ku dengar ada yang mengatakan bahwa anak seperti kanvas putih yang kemudian kita yang akan melukisnya. Mungkin bagiku yang bukan seorang pelukis, aku tidak akan mampu menjadikan kanvas yang ku miliki menjadi lukisan yang baik pula. Okay, karena aku belum memiliki kanvas itu sebenarnya, ku harapkan aku bisa didampingi oleh seorang pelukis yang baik nantinya. :)

Karena aku sendiri menyadari betapa pentingnya kehadiran orang tua dalam perkembangan masa kecil seorang anak. Aku ingat tidak henti-hentinya menanyakan nama pohon dan burung yang ku jumpai dan ku dengar bunyinya saat menemani Abah ke kebun. Atau sekedar terpana melihat roti yang sedang Ibu panggang tiba-tiba membengkak ukurannya dan menjadi menyenangkan saat digigit. Aku juga sering rindu menyelinapkan kepala ke dalam pangkuan Abah saat selesai sholat Magrib, atau sebaliknya, duduk manis di tepi meja makan menantikan Ibu menyelesaikan nasi goreng.

Anak-anak tidak bisa dibiarkan sendirian dan seharusnya memang tidak dibiarkan sendirian. Jikapun tidak bersama keluarganya, boleh bersama dengan teman sepermainannya. Memang terkadang jadi dilemma saat melihat cara bermain anak-anak yang tidak baik dan banyak orang tua yang khawatir anaknya menjadi terpengaruh hal tersebut.

Susah juga ya menjadi orang tua?

Contoh kecil dari hal yang mungkin sulit tertolak adalah tertular penyakit kulit seperti yang ku ceritakan di atas. Tapi aku juga tidak ingin menyalahkan pengasuh anak ataupun teman bermain. Karena seperti yang ku katakan, saat tidak ada orang tua, merekalah yang ada di sisi kita. Memastikan kita tidak sendirian, karena saat itu kita belum bisa memastikan bahwa Allah selalu bersama kita.

Ya, semoga bagi para orang tua yang khawatir, setelah berusaha mencari pengasuh dan teman main yang baik bagi anaknya, tidak lupa untuk menyerahkan anaknya dalam lindungan Allah. Dia yang tidak pernah tidur dan tidak pernah lupa. :) Mungkin akan terlalu kasar dan tidak pantas jika ku katakan tidak pernah terkena penyakit kulit.

*dua hari yang lalu panas badanku meningkat dan saat sendirian berbaring di kamar, selain teringat pada orang tua, teringat pada Allah. Betapa pada saat lemah tak berdaya, hanya padaNya kita bisa meminta.

Maybe I didn’t treat you

Quite as good as I should have

Maybe I didn’t love you

Quite as often as I could have

Little things I should have said and done

I just never took the time

But you were always on my mind

You were always on my mind

Maybe I didn’t hold you

All those lonely, lonely times

And I guess I never told you

I’m so happy that you’re mine

If I made you feel second best

Girl, I’m sorry I was blind

You were always on my mind

You were always on my mind

Tell me, tell me that your sweet love hasn’t died

Give me, give me one more chance

To keep you satisfied… satisfied

Little things I should have said and done

I just never took the time

You were always on my mind

You were always on my mind

You were always on my mind

You were always on my mind

lyric taken from here

Assalamu’alaikum. Good morning.

Pekanbaru yang belakangan mendung setiap hari dan gerimis hampir tiap hari sebenarnya membawa sedikit masalah bagiku yang berjalan kaki, jika tidak hati-hati memperkirakan, bisa kehujanan di jalan. Yang juga tidak kurang masalah adalah jalanan selepas hujan yang menyisakan genangan air, mesti hati-hati kalau melintas di dekatnya, bisa saja tiba-tiba ada kenderaan yang tanpa sengaja jadi menciprati pakaian.

Dengan berat hati ku katakan kalau sepatu yang biasa ku pakai untuk pergi koass selama ini sedikit membawa masalah jika jalanan sedang ‘basah’ ataupun hujan karena ternyata ia tembus air. Pernah selama seharian aku harus menahan dingin di kaki karena kaus kaki jadi ikut basah dan kaki jadi berkeriput.

Setelah sekian hari basah dan terus menerus dipakai — oh sepatuku yang malang — ternyata ia jadi rusak. Bagian tepiannya sedikit terbuka dan malangnya, semakin memudahkan air untuk masuk. Hufffh… kali ini, selain membawa kaki sebagai korban, ia juga menyeret kaus kaki. Kaus kaki yang dipakai dalam keadaan agak lembab dan terus menerus menjejak, jadi lebih mudah untuk rusak, paling parah ya… jadi bolong pada bagian yang selalu kena tekanan. Meski harus membuktikannya lebih banyak lagi, tapi ku rasa, hal ini cukup masuk akal sebagai penjelasan kaus kaki yang bolong.

Jadilah tadi pagi aku menelepon Abah untuk minta dibelikan sepatu. Hehe… — perkenalkan, saya Aulia Rahman, Dokter Muda dan masih minta dibelikan sepatu oleh Abah — Tuing-tuing. Alasan terkuatku saat minta dibelikan adalah: TIDAK SEMPAT BELI.

Abah menyanggupinya dan bilang akan mengirimkannya, kalau tidak hari ini [selasa] mungkin besok [rabu] — it’s wednesday already. Kemudian di siang hari ia mengirim sms bahwa sepatunya sudah dikirim lewat paket mobil antar kota. Mungkin sampainya malam hari.

Aku yang hari ini sangat mengantuk karena jaga malam hari Senin lalu, sempat terkejut ketika jam 12 lewat sedikit paket kirimannya datang. Si supir mengeluh nomorku tidak bisa dihubungi.

Yeah… don’t mess with me when I am sleepy.  Dalam keadaan mengantuk aku mendengarkan saja komplain si supir. Bapak itu sampai menunjukkan history call-nya yang berkali-kali.

Bener sih, dia nelpon berkali-kali.

Sayangnya, nomor yang dia tuju bukan nomor punya aku. Hihihi.

Seharusnya angka terakhir adalah 4 tapi si supir [yang mungkin juga mengantuk] menekan angka 7. Ck ck ck.

Maaf ya Pak, lain kali hati-hati kalau nekan nomornya. Ujarku setengah mengantuk. Si bapak pun terdiam dan pergi. Oh ya, aku lupa apa sudah bilang makasih sama dia…hehe…

Yang jelas, aku sudah kirim sms bilang makasih sama Abah. Aku suka sepatunya. Thanks Abah. Love you.

tampak samping :D

tampak samping :D

sepatu barunya langsung dipakai

sepatu barunya langsung dipakai

*damn, aku belum menyelesaikan tugas menulis laporan pemeriksaan luar mayat! kumpulnya besok pagi!

Assalamu’alaikum.

It’s Monday again.

Minggu kelima di stase Forensik dan Medikolegal. Itu artinya minggu ujian dan tugas-tugas yang — seharusnya sudah tapi nyatanya — belum ku selesaikan.

Hari ini juga hari pertama di bulan Februari, wondering apa yang akan berbeda pada bulan ini. Wisuda? Oh yeah. It’s still too early to talk about it.

Some of friends complain that I didn’t write lately. I am so sorry for that. Kenyataannya, sampai ke rumah pada pukul sembilan malam setelah beraktivitas seharian itu menutup segala kemungkinan lain untuk memulai aktivitas baru.

Aku biasanya memilih duduk sebentar, minum susu, makan cemilan, membaca lanjutan berita mengenai Australia Open — congrats Roger for your 16th title, it was a good news untuk menutup malam.

Aku juga mendonlot beberapa highlights pertandingan tenis yang menurutku cukup menyenangkan untuk ditonton. Seperti sekarang, saat aku sedang mengetikkan jari di atas keyboard, Hingis vs Venus Williams sedang jalan. Wimbledon 2000.

Sepuluh tahun yang lalu. Yeah… sebenarnya waktu sepanjang itu terasa atau tidak? Ada beberapa saat di mana aku akan merasakan hidup jadi begitu lama dan sejujurnya ingin segera melewatinya, namun terkadang hari-hari berlalu bagai kilasan slide show foto-foto Australian Open yang sedang ku lihat sekarang, cepat dan beberapa tidak sempat ku resapi dalam memori.

Menulis seperti ini sangat membantu untuk mengumpulkan memori-memori yang terserak itu.

Meski terkadang hanya seperti coretan-coretan iseng, hehe.

Aku sudah memikirkan jadwal hari ini: jaga pagi di IGD sampai jam 2, kemudian lanjut lagi jaga IGD sampai jam tujuh besok pagi. OH MY GOD. Mungkin aku harus mencuri waktu di antaranya untuk mengerjakan beberapa tugas laporan jaga dan pemeriksaan luar mayat yang seperti ku katakan sebelumnya: belum ku selesaikan.

I called mama, abah dan kak dina two days ago, sudah cukup lama tidak bicara dengan mereka. Hanya bertukar kabar, Abah dan Mama sehat-sehat saja, kak Dina akan menyusul suaminya di Jerman, Asma sudah semakin lancar bicara namun berat badannya masih sulit untuk naik, ia juga anehnya sangat senang mengupil, Arini sedang libur semester. Ah ya, aku belum menelepon Ainul.

I will add it as my to do list for today.

Sebelum jam tujuh pagi ini aku harus memenuhi daftar ini: mandi, menyeterika, merapikan tempat tidur, and yeah… memosting tulisan ini.

Good morning all. Have a nice Monday.

Aku sampai lupa sudah berapa mekanisme pembayaran uang kuliah yang pernah ku lakukan selama kuliah ini. Mulai dari yang mengantri berdesak-desakan di Rektorat Universitas, berjajar panjang saat menyetor uang di bank, memanfaatkan jasa teman untuk melakukan transfer via atm karena atmku terblokir, sampai yang baru-baru ini, ya… untuk semester sepuluh [bagiku] ini, pembayaran uang kuliah atau yang sering disebut spp [maafkan aku karena tidak tahu kepanjangan dari spp itu] akan melalui bank yang berbeda dari sebelumnya.

Sebelumnya melalui bank Mandiri, sekarang BNI [nggak papa sebut nama kan?]

Kartu Mahasiswa ku bahkan merupakan atm Mandiri [ini kartu sudah terblokir sejak 1 tahun yang lalu karena aku main tebak-tebakan pin dengan mr.atm]

Maka aku biasa-biasa saja saat tahu kalau sekarang lewat BNI, selain karena atmku yang rusak itu, aku juga memang menggunakan BNI untuk tabungan dan atm yang normal ku pakai. Jadi, boleh dikatakan aku termasuk pihak yang diuntungkan kali ini. :)

Semakin senang karena katanya bisa lewat transfer atm saja, tidak mesti datang ke bank dan menenteng lembaran-lembaran uang itu seperti isu yang pertama berhembus.

Tapi karena ini pertama kalinya, aku juga belum terlalu mengerti mekanisme transfer atmnya, ku pakai cara tradisional saja. DATANG KE BANK DAN MELAKUKAN PENYETORAN.

Mungkin — Sehubungan adanya kerjasama BNI dan Universitas dalam hal pembayaran spp ini, bank katanya tetap buka untuk hari Sabtu dan Minggu [atau sebelumnya bank memang buka pada hari itu ya? haha... maafkan kebodohanku ini]. Semakin senang saja.

Hari ini. Sabtu. Aku punya jadwal dinas pagi yang longgar, bersama Alfan aku pergi ke bank. Sebelumnya aku menarik uang tunai dulu ke atm. Seperti yang ku katakan di atas, aku menenteng lembaran-lembaran uang — tidak seekstrim itu sebenarnya. :)

Tapi olala, katanya ada gangguan internet sehingga pembayaran belum bisa dilakukan. Mungkin bisa datang besok, kan Minggu juga masih buka, demikian satpam bank itu menjelaskan. Kalau ditunggu juga tidak apa-apa, hanya nomor antriannya sudah sampai angka 70, sementara angka 1 saja belum jalan antriannya.

Karena besok aku jaga di IGD, ku putuskan untuk menunggu saja dulu, toh sudah minta izin. Alfan juga setuju. Pertama kami sepakat untuk menunggu selama setengah jam.

Setengah jam berlalu namun tidak ada tanda-tanda kalau internetnya sudah jalan. Karena kebetulan bertemu dengan teman satu angkatan yang juga sedang menunggu, setengah jam yang sudah disepakati tadi terus saja berlanjut jadi 45 menit.

Kemudian datanglah pengumuman itu, bahwa pihak bank meminta maaf karena masih belum bisa memperbaiki jaringan internetnya. Bagi mahasiswa yang memiliki kartu atm BNI silakan bayar lewat transfer saja… bla… bla… bla…

Serasa mau tertawa saja.

Aku telah menggunakan BNI sejak awal kuliah, selama ini hanya menggunakannya untuk keperluan transfer uang dari orangtua-anak saja. Aku jarang sekali pergi ke bank, jadi saat-saat menunggu dan ternyata tidak mendapat hasil ini merupakan hal yang baru bagiku.

Rasanya tidak enak ternyata.

Kecewa.

Mudah-mudahan besok hari Minggu sudah tidak ada gangguan seperti ini lagi, karena biar bagaimanapun, tentu pergantian bank dari Mandiri ke BNI ini dimaksudkan untuk proses pembayaran yang lebih lancar kan?