Archive for the ‘poetry’ Category

Lalu kita bicara secara terbuka
Tentang hari yang terlewati

Saat aku dan kamu masih satu hati

Sungguh gerimis pagi
Aku merindukanmu sejak malam buta
sekering tinta di tanganku
yang tak mampu menggoreskan kata

Saat kau datang
hingga kau pergi

Terlalu aku merindukanmu
Begitu aku menantikanmu

Subuh itu, kita bertemu

Pekanbaru, 29 Juli 2010

Segera, aku akan meninggalkanmu

Dalam diam yang terusik
ada namamu yang begitu sejuk
memeluk hatiku
memenjarakan nafasku
dalam cinta

Aku mencoba mengerti
mengapa langkah kita tak pernah sama
tak pernah satu

Kita seiring sejalan
tapi tak pernah bertemu

Ternyata cinta bukan lagi alasan untuk kita
terus bersama
ketika hidup tak begitu ramah
padaku
padamu
pada kita

Cinta adalah kekuatan yang pernah buat kita tersenyum

tapi juga yang memisahkan kita

Dalam diam yang terusik
selalu ada namamu yang begitu sejuk
selalu memeluk hatiku
selalu dalam nafasku

aku cinta padamu

tapi segera, aku meninggalkanmu.

Pekanbaru, 28 Juli 2010

Ku tlah mendaki bukitmu. Turuni lembahmu.
Beristirahat di tepi sungaimu.
Rasa lelah itu selalu ada.
Ku sudah lewati setapakmu. Renangi lautmu.
Tidur di tepian kawahmu.
Rasa bersalah itu selalu ada.
Ini perjalananku di duniamu.
Maka maafkan aku.
Ingin ku sampai di sana, dengan bebas merdeka lalu kau tersenyum.
Meski mungkin sekarang kau marah.
Karena aku tlah jatuh jauh di bawah.

Aku berpijak di tepian waktu yang mengabur
Memegangi nafas
Mencoba melangkah
Satu kali lagi
Satu hari lagi
Ku yakinkan hati untuk berbuat
Karena hidup benar-benar sekali
Di tepian waktu ini aku menunggu
Ia mengecupku

Pekanbaru, 25 April 2010


Malam itu.
Bulan terang di atas kamarku.
Kami bertatapan.
Tak tidur aku dibuatnya.
Dimandikan cahaya.

Malam itu.
Bulan terang di mataku.

Pekanbaru, 8 Januari 2010


Salam
Semoga Allah melindungimu dengan kasih dan sayang-Nya
(karena aku tidak bisa melindungimu dengan kasih sayangku, aku dan Ibu terpisah jarak yang tak dekat)

Tersenyumlah
Sebab aku tahu kau pasti menangis saat ini
(kau selalu begitu, tak peduli bahagia atau duka, air matamu mudah sekali mengalir, ah… seandainya aku bisa memberikan sapu tangan padamu wahai Ibu. Kita berdua terpisah jauh sekarang)

Apa kabar
Kau pasti menjawab: Ibu baik
(sekarang aku bisa membayangkan kau tersenyum. Ibu baik. Selalu seperti itu. Apa benar kau selalu bahagia Ibu? Kalau begitu ingin rasanya aku menjadi Ibu saja. Haha. Tapi aku kan laki-laki. Hhh…)

Bagaimana pula dengan tanganmu
Kau pernah menanyakan padaku tentang itu
Katamu pergelangan tanganmu terkadang sakit jika digerakkan
(hh… aku belum jadi dokter Ibu. Dan jika pun sudah, aku tak akan pernah berharap tanganmu benar-benar sakit. Jangan sampai kau sakit. Ya…?)

Hhh…
Sepertinya aku terlalu banyak mengeluh
(oh ya, jangan bilang kalau kau sedang meminjam kacamata Ayah. Ibu yang aneh. Ibu lebih cocok memakai kacamata Ayah. Bagaimana bisa itu terjadi?)

Oh ya
Aku baik
Nilaiku juga lumayan
Meski berat badanku tidak juga bertambah
(untuk yang terakhir ini aku terkadang stress, aku terlihat seperti papan triplek saja, hahaha… sssttt… jangan bilang siapa-siapa ya)

Calon menantu Ibu juga baik
Haha
Aku bercanda
Bagaimana bisa aku memikat gadis
(seandainya bisa, aku ingin gadisku kelas akan secantik Kakak, kemudian akan sebaik Ibu)

Semoga hari-harimu menyenangkan
Jangan sering kecapean
(aku membayangkanmu memakai ikat kepala dari handuk kecil. Itu tandanya kau sedang sakit kepala berat. Hhh… Ibu, apa aku sering membuatmu sakit kepala?)

Begini saja kabar dariku
Sampai di sini dulu suratku
Aku akan mengirimimu lagi kabar-kabar terbaru
Selama masih ada waktu
Masih ada rindu
Takkan pernah hati ini lepas dari memikirkanmu
Ibu…

Salam
(anak laki-lakimu. Dia masih saja tidur seperti mati)

Pekanbaru. 7 Desember 2006


Aku ingin memilikimu
Lebih dari segalanya
Percayakah kau?
Akan getar-getar rasa
Pada debar-debar yang ada
Dan degupan jantungku yang tak mungkin berdusta
Kau telah miliki hatiku

Aku ingin memilikimu
Aku ingin mengambil hatiku kembali
Berikut pencurinya

Tahukah kau tentang semua arti?
Arti tatapanku;
Arti bahasaku;
Arti gerakanku;
Atau tentang makna?
Makna setiap gelisah gundah yang telah kau hadirkan dalam malam-malamku
Makna setiap bayang tawa rindu yang telah tumbuh di jiwaku sejak aku mengenalmu

Aku ingin memilikimu

Tahukah kau?
Aku ingin memilikimu
Seutuhnya.

Tembilahan, 8 Juni 2005


Sampai sekarang masih kadang kosong
Aku tak bisa meraba damai yang menggantung
Penuh rasanya jiwa ini ingin sempurna
Mengapa takdir ini yang bicara padaku
Lelah aku terus dibayangi cemas
Akan tawa-tawa mereka
Apa lagi yang harus ku lakukan
Sudut kurang itu ternyata masih ada
Tak hilang ia meski aku lelah mengukurnya
Memang tak ada gunanya meratap
Andai aku bisa adil menatap
Mungkin bisa ku lupa semua cerita usang
Tapi ia justru datang
Penuh mimpi gairah akan diri yang nyata
Aku terlahir sebagai dewa
Huffhh… katakanlah jiwa yang terluka
Bisikkanlah hai hati yang karam pada dendam
Bicaralah padaku
Aku ingin suara itu yang jujur
Tapi tetap saja aku hancur
Lepaskanlah
Pergilah
Dia pasti menolongmu
Benarkah? (ya. Ingin aku percaya)

Tembilahan. 13 April 2005


Aku telah mendengar semua curahan hatimu
Aku telah membaca seluruh isi suratmu
Aku juga telah memahami maksud dari semua tentangmu
Aku ingin kau tahu aku mengerti situasi yang sedang terjadi ini

Kau mengatakan bahwa dengan mengingatku maka hatimu tak lagi gundah
Kau meyakinkan bahwa kau percaya aku sudah bisa diandalkan dalam hidup ini
Kau juga berharap aku dapat tidak lagi berdiam diri jika kita sedang bertemu
Kau bilang kalau kau tidak ingin mendapat jawaban yang menyakitkan hatimu

Jadi tinggallah aku dengan kebingungan ini

Aku sebenarnya ingin mengatakan bahwa aku telah menyerahkan hatiku pada seseorang
Aku sebenarnya ingin menyampaikan bahwa aku sudah menetapkan hatiku pada seseorang
Aku sebenarnya ingin kau tahu aku telah menemukan seseorang yang ingin aku bersamanya pada sisa hidupku
Aku sebenarnya ingin kau tahu bahwa aku telah memutuskan untuk tidak memikirkan seseorang yang lain lagi

Hatiku telah ada yang memiliki
Pandanganku telah ada yang mengisi
Perasaanku jauh lebih tenang jika mendengar suaranya
Aku bisa merasakan dadaku menghangat jika sedang memikirkannya
Aku bisa tersenyum sendiri jika mengingat apa yang telah kami lalui

Aku sebenarnya ingin mengatakan
bahwa aku tidak siap untuk memulai dengan dirimu
bahwa aku tidak merasa kita sesuai
bahwa aku tidak merasakan hatiku membalas cintamu
bahwa aku tidak bisa menjadi kekasihmu

Sekali lagi aku bingung
Kau tidak ingin mendengar jawaban yang menyakitkan

Maka seandainya aku diam saja
Bisakah kau mengerti?
Bisakah kau pahami?

Aku menyimpan jawaban yang tak ingin kau dengar itu.
Maaf.

Pekanbaru, 26 November 2006


Aku telah melihatnya menangis
melihatnya tertawa
Aku telah melihatnya dalam isak dan bahagia

Aku pernah mendengarnya mengeluh
mendengarnya berdoa
Aku pernah mendengarnya tanpa suara tanpa kata

Aku yang telah pernah bersamanya
Aku yang kini tak lagi bersamanya
Aku yang dulu tak tahu arti sebenar dari ikatan rasa ini
Ingin aku memelukmu
Ingin sekali aku
Sungguh-sungguh ingin

Ibu.
Jika waktu yang telah kita lalui tak cukup untuk lekatkan aku di hatimu, kau yang melekatkannya
Jika seusia kanakku tak ada yang bisa ku beri sebagai ganti atas jerihmu, kau yang memberi hadiah

Aku takkan bisa merasakan lagi saat mungilku di dalam dekapan lembut hangatmu
Betapa pun besar inginku

Maka izinkanlah aku berkata padamu duhai ibu
Cahaya hati pengisi pandanganku selama ini

Anakmu merindukanmu dari kejauhan
Anakmu mencintaimu sejauh mata memandang
Karena aku anakmu
Aku anak yang beruntung memilikimu
sebagai Ibu

Pekanbaru, 6 Desember 2006