
Salam
Semoga Allah melindungimu dengan kasih dan sayang-Nya
(karena aku tidak bisa melindungimu dengan kasih sayangku, aku dan Ibu terpisah jarak yang tak dekat)
Tersenyumlah
Sebab aku tahu kau pasti menangis saat ini
(kau selalu begitu, tak peduli bahagia atau duka, air matamu mudah sekali mengalir, ah… seandainya aku bisa memberikan sapu tangan padamu wahai Ibu. Kita berdua terpisah jauh sekarang)
Apa kabar
Kau pasti menjawab: Ibu baik
(sekarang aku bisa membayangkan kau tersenyum. Ibu baik. Selalu seperti itu. Apa benar kau selalu bahagia Ibu? Kalau begitu ingin rasanya aku menjadi Ibu saja. Haha. Tapi aku kan laki-laki. Hhh…)
Bagaimana pula dengan tanganmu
Kau pernah menanyakan padaku tentang itu
Katamu pergelangan tanganmu terkadang sakit jika digerakkan
(hh… aku belum jadi dokter Ibu. Dan jika pun sudah, aku tak akan pernah berharap tanganmu benar-benar sakit. Jangan sampai kau sakit. Ya…?)
Hhh…
Sepertinya aku terlalu banyak mengeluh
(oh ya, jangan bilang kalau kau sedang meminjam kacamata Ayah. Ibu yang aneh. Ibu lebih cocok memakai kacamata Ayah. Bagaimana bisa itu terjadi?)
Oh ya
Aku baik
Nilaiku juga lumayan
Meski berat badanku tidak juga bertambah
(untuk yang terakhir ini aku terkadang stress, aku terlihat seperti papan triplek saja, hahaha… sssttt… jangan bilang siapa-siapa ya)
Calon menantu Ibu juga baik
Haha
Aku bercanda
Bagaimana bisa aku memikat gadis
(seandainya bisa, aku ingin gadisku kelas akan secantik Kakak, kemudian akan sebaik Ibu)
Semoga hari-harimu menyenangkan
Jangan sering kecapean
(aku membayangkanmu memakai ikat kepala dari handuk kecil. Itu tandanya kau sedang sakit kepala berat. Hhh… Ibu, apa aku sering membuatmu sakit kepala?)
Begini saja kabar dariku
Sampai di sini dulu suratku
Aku akan mengirimimu lagi kabar-kabar terbaru
Selama masih ada waktu
Masih ada rindu
Takkan pernah hati ini lepas dari memikirkanmu
Ibu…
Salam
(anak laki-lakimu. Dia masih saja tidur seperti mati)
Pekanbaru. 7 Desember 2006