Assalamu’alaikum. Good morning.
Pekanbaru yang belakangan mendung setiap hari dan gerimis hampir tiap hari sebenarnya membawa sedikit masalah bagiku yang berjalan kaki, jika tidak hati-hati memperkirakan, bisa kehujanan di jalan. Yang juga tidak kurang masalah adalah jalanan selepas hujan yang menyisakan genangan air, mesti hati-hati kalau melintas di dekatnya, bisa saja tiba-tiba ada kenderaan yang tanpa sengaja jadi menciprati pakaian.
Dengan berat hati ku katakan kalau sepatu yang biasa ku pakai untuk pergi koass selama ini sedikit membawa masalah jika jalanan sedang ‘basah’ ataupun hujan karena ternyata ia tembus air. Pernah selama seharian aku harus menahan dingin di kaki karena kaus kaki jadi ikut basah dan kaki jadi berkeriput.
Setelah sekian hari basah dan terus menerus dipakai — oh sepatuku yang malang — ternyata ia jadi rusak. Bagian tepiannya sedikit terbuka dan malangnya, semakin memudahkan air untuk masuk. Hufffh… kali ini, selain membawa kaki sebagai korban, ia juga menyeret kaus kaki. Kaus kaki yang dipakai dalam keadaan agak lembab dan terus menerus menjejak, jadi lebih mudah untuk rusak, paling parah ya… jadi bolong pada bagian yang selalu kena tekanan. Meski harus membuktikannya lebih banyak lagi, tapi ku rasa, hal ini cukup masuk akal sebagai penjelasan kaus kaki yang bolong.
Jadilah tadi pagi aku menelepon Abah untuk minta dibelikan sepatu. Hehe… — perkenalkan, saya Aulia Rahman, Dokter Muda dan masih minta dibelikan sepatu oleh Abah — Tuing-tuing. Alasan terkuatku saat minta dibelikan adalah: TIDAK SEMPAT BELI.
Abah menyanggupinya dan bilang akan mengirimkannya, kalau tidak hari ini [selasa] mungkin besok [rabu] — it’s wednesday already. Kemudian di siang hari ia mengirim sms bahwa sepatunya sudah dikirim lewat paket mobil antar kota. Mungkin sampainya malam hari.
Aku yang hari ini sangat mengantuk karena jaga malam hari Senin lalu, sempat terkejut ketika jam 12 lewat sedikit paket kirimannya datang. Si supir mengeluh nomorku tidak bisa dihubungi.
Yeah… don’t mess with me when I am sleepy. Dalam keadaan mengantuk aku mendengarkan saja komplain si supir. Bapak itu sampai menunjukkan history call-nya yang berkali-kali.
Bener sih, dia nelpon berkali-kali.
Sayangnya, nomor yang dia tuju bukan nomor punya aku. Hihihi.
Seharusnya angka terakhir adalah 4 tapi si supir [yang mungkin juga mengantuk] menekan angka 7. Ck ck ck.
Maaf ya Pak, lain kali hati-hati kalau nekan nomornya. Ujarku setengah mengantuk. Si bapak pun terdiam dan pergi. Oh ya, aku lupa apa sudah bilang makasih sama dia…hehe…
Yang jelas, aku sudah kirim sms bilang makasih sama Abah. Aku suka sepatunya. Thanks Abah. Love you.

tampak samping

sepatu barunya langsung dipakai
*damn, aku belum menyelesaikan tugas menulis laporan pemeriksaan luar mayat! kumpulnya besok pagi!