Archive for the ‘blog’ Category

Dan buat siapa yang belum tahu, sebelum menulis di blog www.auliarahman.com ini saya sudah menulis di www.auliasedangbercerita.blogspot.com dan www.me-as-setya.blogspot.com serta beberapa halaman yang terbengkalai lainnya.

Kedua blog tersebut sudah saya hapus dan isinya saya merger ke blog ini. Bagi yang sudah mengikuti tulisan saya [haha, malu sekali menuliskan kalimat ini] sejak dulu maka akan melihat bahwa tiap blog saya menulis dengan berbeda. Di auliasedangbercerita.blogspot saya akan menulis:

saya—gw

serta cara menulis yang asal dan cablak. Tidak seserius sekaranglah. [huek]

Di me-as-setya.blogspot, saya hanya menulis puisi yang dilengkapi dengan gambar-gambar buatan saya sendiri. Maaf karena tag-nya masih serabutan, jadi kalau sekarang mengklik tag ‘puisi’ tidak akan semua puisi yang keluar, mudah-mudahan saya diberi waktu kosong yang benar-benar lowong untuk merapikan semua file-file itu. :)

Ah ya, saya juga masih aktif menulis di gangren.multiply.com, berat rasanya untuk berhenti menulis di sana. Jika ada waktu, silakan juga mampir di sana ya. Saya akan senang mendapati komen kalian semua.

Satu lagi, kebiasaan pindah rumah ini bukan karena saya tidak setia loh… [apa hubungannya coba ngomong beginian? :D ]

Selamat menanti waktu berbuka…

medbookAssalamu’alaikum.

Sudah beberapa waktu sejak saya terakhir kali serius menulis blog. Bukan berarti puisi-puisi yang nangkring di bawah ini tidak serius, tapi maksud saya adalah… you know… menulis yang membuat saya berfikir tentang apa yang ingin ditulis dan pentingkah hal itu untuk ditulis.

Haha. Silakan dirunut ke bawah untuk memastikan betapa banyak sampah yang saya tulis sebelum ini — yang saat saya menulisnya, saya pikir adalah mahakarya. Doh.

Memasuki sepuluh hari puasa yang terakhir, dengan sangat menyesal saya katakan saya masih belum bisa semaksimal mungkin mengisi Ramadhan ini. Tanpa alasan jelas.

Buruk sekali.

Okay, jadwal di stase Bedah memang lumayan berat, tapi sebenarnya di dalam setiap kesempitan itu kita semakin awas akan adanya kesempatan bukan? Kita jadi mencari-cari waktu lowong yang mungkin dalam aktivitas ringan sebelumnya, tidak akan terpikirkan.

Setengah jam menjelang mandi pagi misalnya.
Satu jam sebelum tidur malam.
Setengah jam di antara rapatnya jadwal laporan jaga-follow up pasien-visite dokter-jaga IGD-masuk kamar operasi-menulis laporan kasus dan referat-bla bla bla.

Masih banyak waktu sebenarnya.

Dan saya sangat mudah tergoda untuk menghabiskannya dengan… TIDUR.

*senyum lebar tanpa berdosa*

Semoga kalian bisa mengisi Ramadhan ini dengan kegiatan yang jauh lebih baik daripada yang telah saya lakukan.

Oya, tidak jadi ah menulis sesuatu yang perlu dipikirkan, haha. Saya curcol saja.

Sekarang sedang meriang. Beberapa anggota yang lain di stase ini juga sudah jatuh bangun kena serangan virus: batuk, bersin, demam, pilek, you name it. Kurang istirahat dan asupan makanan yang tidak seimbang bikin semua jadi tambah buruk. Belum lagi cuaca yang sedang labil. Panas-dingin-hujan-terik ganti-gantian.

Saya nggak ngeluh. Cuma sedang cerita perkembangan diri saya. Saya nggak akan ngeluh meski sedang meriang karena saya masih bisa makan dengan baik, minum susu dengan cukup serta bisa makai internet.

Tapi tetep, lumayan khawatir kalau besok tepar. Sekarang sudah pakai jaket dua lapis biar nggak menggigil.

Tugas masih banyak numpuk. Doain ya semoga semua bisa selesai dengan baik meski mungkin tidak akan tepat jadwal yang sudah ditetapkan. Ck ck ck.

Selamat beribadah. Selamat istirahat. Selamat beraktivitas. I love you all.

Seperti yang tertulis di blog-nya Aulia ini, verba volant, scripta manent – spoken words fly away, written ones stay, maka saya ingin menulis. Yah meskipun dibanding menulis, saya lebih senang mengklasifikasikan orang. Misalnya saja, berdasarkan tampang, orang terbagi ke dalam 2 kategori, yaitu orang bertampang preman (Aulia, misalnya) dan yang bertampang korban preman (saya, misalnya). :D

Demikian juga dalam tulis menulis, orang terbagi ke dalam 2 kategori, yaitu yang berbakat menulis (contohnya Aulia) dan yang berbakat merusak tulisan orang lain (contohnya saya). :D

Tapi dari bermula dengan merusak tulisan orang lain itu (red: Aulia yang paling sering jadi korbannya), timbul keinginan untuk belajar menulis. Keinginan itu pun difasilitasi oleh Aulia dengan “meminjamkan” blog-nya ini untuk saya belajar menulis. Yah mungkin dia pikir ini lebih baik daripada saya terus-menerus merusak hasil karyanya, hehe…

Akhirnya, saya berhasil menghasilkan hasil-hasil tulisan yang menjadi sumber penghasilan (haiz…, ngomong opo toh iki?). Alhamdulillah. :)

Jadi ceritanya, kemarin saya dapat kabar dari penerbit Yudhistira, bahwa buku-buku saya sudah beredar di toko-toko buku di seluruh Indonesia. Yeyeyeye…., senangnyaaa… (jungkir-balik-kayang-salto-pushup100x).

Hihihi…, jangan ngebayangin buku ini semacam novel Harry Potter ya. Ini nggak jauh-jauh dari bidang saya. Ya, yang diterbitkan adalah buku “Mudah Berhitung Matematika SD” untuk kelas 1 sampai dengan kelas 6 :D . Untuk yang sekolah menengah atas, masih dalam proses pencetakan. Sedangkan untuk yang tingkat universitas, masih dalam proses penulisan. Entahlah kapan tahap penulisan itu berakhir, karena saya justru lebih heboh dikejar-kejar supervisor untuk nyelesein disertasi. :D

lihat bukuku... penuh dengan warna...

lihat bukuku... penuh dengan warna...

ini buku baru berwarna biru. :D

ini buku baru berwarna biru. :D

Semoga saja buku-buku itu bisa memberikan manfaat (walaupun sedikit) kepada bangsa kita (haiz.., bahasanya…).

ayo... ada berapa warna di sana...? :D

ayo... ada berapa warna di sana...? :D

tinggalkan komik kalian, miliki buku ini. :)

tinggalkan komik kalian, miliki buku ini. :)

Mohon doanya agar saya selalu diberikan kesehatan dan kesempatan untuk memberikan manfaat sebanyak-banyaknya kepada orang lain.

Akhir kata, selamat menikmati dan mengkritisi buku-buku saya.

*sambil lirik sinis ke Aulia, “wahai anak muda, mana tulisanmu yang sudah diterbitkan?”* :P

I am not scared. Really.

I am not scared. Really.

Jam sudah menunjukkan pukul 10.30 malam saat bis menurunkan saya di halte depan kampus. Seperti biasanya, saya tidak menjumpai siapapun di jalan sekitar kampus, sebab kehidupan di Perth berakhir pukul 8 malam, saat toko-toko tutup.

Saya masih harus berjalan sekitar 1 km lagi dari depan kampus untuk sampai ke apartemen saya, menyusuri jalan di dalam kampus. Sebagai gambaran, kampus saya didesain menyerupai sebuah kastil, dengan pohon-pohon besar di kanan-kirinya, sehingga suasana mencekam menjadi terasa sekali di malam hari.

Can you see the tree? Coz I can't see the tree. :P

Can you see the tree? Coz I can't see the tree. :P

Nah, saat saya harus melewati sebuah pohon besar, tiba-tiba ada bayangan putih tepat di bawah pohon. Dengan rasa takut yang amat luar biasa, saya tetap menyeret langkah saya untuk melewati pohon tersebut, dengan terus menerus membaca doa – doa apa saja yang saya hapal, mulai doa mau makan, sampai doa sebelum tidur – :P

Saat saya semakin dekat dengan pohon tersebut, maka wujud bayangan itu semakin jelas. Ternyataaaa…. itu seekor kucing anggora. Bukan sekedar “kucing anggora”, tapi seekor “kucing anggora yang luar biasa cantik dengan bulu tebal seputih salju yang hampir membuat jantung saya copot”.

Oh ya, mungkin anda tidak dapat menangkap letak dimana anehnya. Anehnya adalah karena kucing itu berkeliaran. Sebab di Australia, anda tidak akan menemukan kucing berkeliaran di jalanan. Apalagi melihat ayam berkeliaran di sekitar rumah. Yang lebih tidak mungkin lagi, melihat kambing di jalan (hehe.., jadi teringat ibu saya di Indonesia, yang pernah sedemikian kesal dengan kambing tetangga sebab memakan tanaman kesayangannya). Kalaupun anda melihat kambing di jalan, itu pasti di restoran India, dan itupun sudah dalam bentuk Sop Kambing  :P

Oke, kembali ke kucing tadi. Sebenarnya timbul hasrat hati untuk menculik kucing itu. Karena pasti dia kedinginan di luar sana, saat winter seperti ini. Tapi langsung terbayang wajah pemilik apartemen saya (yang kayaknya sudah lupa bagaimana caranya tersenyum sejak berabad-abad lalu) kalau dia sampai tahu ada kucing di dalam rumah. Hwahh.. urusan menyewa apartemen di Australia memang menyebalkan. Bahkan kalau kita sampai memasang 1 paku di dinding pun akan langsung didenda.

Akhirnya saya hanya bisa mengucapkan salam perpisahan dengan si “kucing anggora yang luar biasa cantik dengan bulu tebal seputih salju yang hampir membuat jantung saya copot” itu. Entah bagaimana nasib kucing itu saat ini. Semoga dia segera ditemukan oleh tuannya yang sebenarnya.

and you already know the castil

I promise you, no cat here.

And I've told you that there is no cat. OK.

And I've told you that there is no cat. OK.

Mata ini benar-benar berat rasanya. Tapi mau bagaimana lagi, hati ini masih tidak tenang karena urusan belum selesai.

Satu hari kembali berlalu dengan ketidakpastian yang masih menggantung. Tidur merupakan pelarian terbaik namun bangun adalah mimpi buruk yang begitu nyata. Karena pagi adalah jawaban yang masih berupa tanda tanya.

Adakah bahagia di sana?

its like a heaven

it's like a heaven

Aku percaya pada akhir yang bahagia. Aku percaya pada jalan yang terjal berliku yang mesti ditempuh seseorang demi mencapai keinginannya. Pertanyaannya adalah seberapa berat esok bagiku?

Karena hidup adalah apa yang kau pikirkan, maka aku berusaha membuat pikiran tunduk pada keniscayaan. Bahwa di akhir nanti, tidak akan ada tangis yang mengalir.

Semua akan baik-baik saja. Aku mengandalkan dirimu.

Selamat malam dunia yang gerimis. Aku akan meninggalkanmu sejenak. Ramahlah saat bertemu aku besok pagi.

Assalamu’alaikum.

Saya sering mendengar kata yang digunakan di atas — judul blog ini maksud saya, bukan kata salam yang saya gunakan —, namun tidak pernah benar-benar mengerti makna sebenarnya. Baru saja saya cek di sini [silakan cari sumber lain untuk makna yang lebih dalam] bahwa sama seperti asal katanya, frase tersebut bermakna kemampuan untuk mengerjakan beberapa pekerjaan dalam satu waktu. Hasilnya bisa bagus, buruk, lebih bagus, atau lebih buruk dibandingkan dengan kerja biasa. Salahkan saya jika salah mengartikannya.

Yang jelas, salah satu kebiasaan buruk saya adalah melakukan multitasking itu. Sekarang saja, saya sedang menonton Julie & Julia, masih tersisa cd kedua; memantau perkembangan turnamen bulutangkis di Malaysia lewat livescore, serta tentu saja memikirkan apa yang akan saya tulis di blog ini karena saya sudah terlanjur menulis akan menulis lebih banyak lagi. Ah ya, saya juga belum makan siang.

Secara pribadi saya lebih menyenangi pekerjaan yang dikerjakan satu-satu. Kenikmatannya lebih terasa. Membaca buku sambil mendengarkan music? No way. Membaca buku sambil tiduran? Janganlah. Saya akan lebih senang jika bisa mengerjakan mereka secara terpisah, karena itu tadi, kenikmatannya jadi lebih terasa. Silakan sebut alasan lainnya jika setuju dengan saya.

Tapi terkadang mepetnya waktu — yang bisa terjadi karena berbagai faktor salah satunya kemalasan saya — sering menjadikan waktu yang tersisa itu harus benar-benar dibagi secara teliti untuk begitu banyak pekerjaan yang masih tersisa, bahkan kalau perlu itu tadi: multitasking — makan sambil belajar, mencuci sambil masak, membersihkan kamar mandi sambil mandi, you name it.

Saya biasanya akan menjadikan multi-tasking ini sebagai suatu alarm, bahwa tingkat kemalasan saya sedang tinggi dan harus segera diturunkan. Itu saja.

Mendekati Ramadhan, seharusnya manajemen waktu kita sudah harus lebih baik bukan? Ah ya, I’m using twitter now, you can follow me here.

Selamat siang. Selamat bermultitasking.

Assalamu’alaikum.

Kemarin pagi, ketika sedang sarapan di depan rumah sakit, saya sempat tersenyum sendiri saat mendengar potongan dialog dari kakak penjual sarapan [KPS] dan temannya yang datang [TYD].

Begini ceritanya…

TYD: [mengendarai motor, memarkir sembarangan]. Hai… pagi…!
KPS: [tersenyum] Hai… pagi juga… ish… harusnya assalamu’alaikum lah ya…hehe..
TYD: [cengar-cengir] iya sih… tapi kalau pakai assalamu’alaikum nanti dikirain minta sumbangan lagi.

Well, adegannya merupakan rekaanku saja, tapi kalimatnya memang kurang lebih begitu.

Kalau pakai assalamu’alaikum dikira minta sumbangan?

…………………………………………

Aku pikir teman penjual sarapan di dalam cerita di atas pasti sedang bercanda. Buktinya mereka tertawa setelah itu. Tapi hal tersebut sempat mengerutkan keningku dan membuatku bertanya: seberapa jauhkah kita sudah menggunakan salam dalam kehidupan sehari-hari?

Apa hanya para peminta-minta yang mengucapkan salam sehingga jika kita mengucapkannya secara otomatis orang akan menyangka kita sedang mengemis?

Seorang temanku pernah mengeluhkan kebiasaan tidak menggunakan salam dan justru menggunakan kata sapa biasa seperti ’selamat siang’, ’selamat pagi’, ‘dan segala macamnya’. Waktu itu aku tidak ikut-ikutan mengeluh dan mengatakan bahwa sesungguhnya salam jauh lebih dahsyat daripada kata sapa yang biasa kita dengar.Sehingga justru menjadi masalah bagiku jika ucapan salam itu dilemparkan kesana kemari tanpa arti yang jelas.

Bukan berarti aku lebih memilih menggunakan hai-hoi-woi-hey daripada salam ketika sedang menyapa orang lain. Tapi karena salam itu adalah doa bagi orang yang kita sapa, sepatutnya kita tidak langsung meninggalkan orang yang kita sapa begitu saja ketika sudah mengucapkannya.

Aku sangat senang jika bisa berjabat tangan, mengucapkan salam, jika perlu berpelukan dan lalu saling menanyakan kabar.

Terlalu ribet? Mungkin. Tapi itu hanya karena sudah jadi kebiasaan kita yang sering menyederhanakan pertemuan dengan saudara-saudara kita. Suatu kebiasaan yang seharusnya diubah. Karena ujung-ujungnya, kita membatasi penggunaan salam hanya pada saat mengetok pintu tetangga, menjawab telepon, mengirim sms, tanpa menyadari bahwa ada konsekuensi yang lebih besar setelah mengucapkan salam tersebut. Tanpa pernah memikirkan apa yang sedang kita ucapkan saat mengucapkan salam tersebut.

Karena seharusnya sebelum melakukan suatu ibadah dengan cara yang benar, kita meniatkannya untuk yang Allah pula bukan?

Mengucapkan salam adalah hal yang benar.
Melakukannya karena Allah jangan pernah dilupakan.

…………………………………………..

Untung saja si TYD tidak mengatakan: … tapi kalau pakai assalamu’alaikum nanti dikira teroris…

*tapi mungkin juga hal ini terjadi karena aku sedang di tempat makan, tahu sendiri kalau banyak pengemis di sekitar tempat makan…huffh…

Beberapa kali dalam kasus penyakit yang ku temui di poliklinik penyakit kulit dan kelamin selama sepuluh hari terakhir ini, sang ibu ataupun ayah yang membawa anaknya berobat memberikan pernyataan kemungkinan anaknya tertular penyakit dari tempat penitipan ataupun tempat bermain anaknya sehari-hari.

Beberapa penyakit kulit memang memiliki ciri gampang menular pada orang-orang yang berkumpul, sehingga untuk memastikan kita bisa sembuh secara sempurna, kadang kita harus memastikan asal penularannya dan menghindari untuk kontak selanjutnya agar tidak kambuh lagi penyakit kulitnya.

Aku jadi memperhatikan masalah ini karena beberapa waktu sebelumnya aku sempat mendengar kalau Kak Dina juga mencari pengasuh anak untuk Asma jika ia sedang ada urusan dan tidak bisa menjaga Asma. Saat itu Ibu memberi nasihat agar memilih pengasuh yang benar-benar terpercaya karena biar bagaimanapun yang kita titipkan itu adalah anak kita, bukan sekedar barang seperti helm atau sepatu yang kita titipkan di penitipan barang.

Aku yang sejujurnya menyukai anak kecil harus mengakui kalau aku tidak tahan berlama-lama dengan mereka. Aku tidak bisa begitu lama menahan diri untuk berada dalam dunia mereka yang begitu cepat berubah-ubah — kadang mereka ingin bermain kereta, bermain bola, membaca buku, duduk-duduk saja, diceritakan sesuatu, makan es krim, atau sekedar memanjat pohon cermai di belakang rumah dan berlama-lama memandangi langit.

Sebenarnya mungkin dulu aku juga begitu, tapi sekarang tidak lagi. Aku sekarang lebih suka tidur jika ada waktu luang. Betapa buruknya, hehe.

Kembali kepada masalah pengasuhan anak tadi, aku jadinya cukup kagum kepada mereka yang punya kemampuan untuk betah berlama-lama dengan anak-anak. Terlepas apakah mereka melakukan itu karena dibayar ataupun karena mereka suka, tapi yang jelas, bagi para pengasuh anak yang memang mengerjakan tugasnya, aku salut saja, karena seperti yang ku katakan tadi, aku tidak tahan untuk melakukan hal yang sama. Serta satu hal yang penting, berarti mereka tidak ditolak oleh anak-anak tersebut. Hebat bukan?

Pernah ku dengar ada yang mengatakan bahwa anak seperti kanvas putih yang kemudian kita yang akan melukisnya. Mungkin bagiku yang bukan seorang pelukis, aku tidak akan mampu menjadikan kanvas yang ku miliki menjadi lukisan yang baik pula. Okay, karena aku belum memiliki kanvas itu sebenarnya, ku harapkan aku bisa didampingi oleh seorang pelukis yang baik nantinya. :)

Karena aku sendiri menyadari betapa pentingnya kehadiran orang tua dalam perkembangan masa kecil seorang anak. Aku ingat tidak henti-hentinya menanyakan nama pohon dan burung yang ku jumpai dan ku dengar bunyinya saat menemani Abah ke kebun. Atau sekedar terpana melihat roti yang sedang Ibu panggang tiba-tiba membengkak ukurannya dan menjadi menyenangkan saat digigit. Aku juga sering rindu menyelinapkan kepala ke dalam pangkuan Abah saat selesai sholat Magrib, atau sebaliknya, duduk manis di tepi meja makan menantikan Ibu menyelesaikan nasi goreng.

Anak-anak tidak bisa dibiarkan sendirian dan seharusnya memang tidak dibiarkan sendirian. Jikapun tidak bersama keluarganya, boleh bersama dengan teman sepermainannya. Memang terkadang jadi dilemma saat melihat cara bermain anak-anak yang tidak baik dan banyak orang tua yang khawatir anaknya menjadi terpengaruh hal tersebut.

Susah juga ya menjadi orang tua?

Contoh kecil dari hal yang mungkin sulit tertolak adalah tertular penyakit kulit seperti yang ku ceritakan di atas. Tapi aku juga tidak ingin menyalahkan pengasuh anak ataupun teman bermain. Karena seperti yang ku katakan, saat tidak ada orang tua, merekalah yang ada di sisi kita. Memastikan kita tidak sendirian, karena saat itu kita belum bisa memastikan bahwa Allah selalu bersama kita.

Ya, semoga bagi para orang tua yang khawatir, setelah berusaha mencari pengasuh dan teman main yang baik bagi anaknya, tidak lupa untuk menyerahkan anaknya dalam lindungan Allah. Dia yang tidak pernah tidur dan tidak pernah lupa. :) Mungkin akan terlalu kasar dan tidak pantas jika ku katakan tidak pernah terkena penyakit kulit.

*dua hari yang lalu panas badanku meningkat dan saat sendirian berbaring di kamar, selain teringat pada orang tua, teringat pada Allah. Betapa pada saat lemah tak berdaya, hanya padaNya kita bisa meminta.

Assalamu’alaikum. Good morning.

Pekanbaru yang belakangan mendung setiap hari dan gerimis hampir tiap hari sebenarnya membawa sedikit masalah bagiku yang berjalan kaki, jika tidak hati-hati memperkirakan, bisa kehujanan di jalan. Yang juga tidak kurang masalah adalah jalanan selepas hujan yang menyisakan genangan air, mesti hati-hati kalau melintas di dekatnya, bisa saja tiba-tiba ada kenderaan yang tanpa sengaja jadi menciprati pakaian.

Dengan berat hati ku katakan kalau sepatu yang biasa ku pakai untuk pergi koass selama ini sedikit membawa masalah jika jalanan sedang ‘basah’ ataupun hujan karena ternyata ia tembus air. Pernah selama seharian aku harus menahan dingin di kaki karena kaus kaki jadi ikut basah dan kaki jadi berkeriput.

Setelah sekian hari basah dan terus menerus dipakai — oh sepatuku yang malang — ternyata ia jadi rusak. Bagian tepiannya sedikit terbuka dan malangnya, semakin memudahkan air untuk masuk. Hufffh… kali ini, selain membawa kaki sebagai korban, ia juga menyeret kaus kaki. Kaus kaki yang dipakai dalam keadaan agak lembab dan terus menerus menjejak, jadi lebih mudah untuk rusak, paling parah ya… jadi bolong pada bagian yang selalu kena tekanan. Meski harus membuktikannya lebih banyak lagi, tapi ku rasa, hal ini cukup masuk akal sebagai penjelasan kaus kaki yang bolong.

Jadilah tadi pagi aku menelepon Abah untuk minta dibelikan sepatu. Hehe… — perkenalkan, saya Aulia Rahman, Dokter Muda dan masih minta dibelikan sepatu oleh Abah — Tuing-tuing. Alasan terkuatku saat minta dibelikan adalah: TIDAK SEMPAT BELI.

Abah menyanggupinya dan bilang akan mengirimkannya, kalau tidak hari ini [selasa] mungkin besok [rabu] — it’s wednesday already. Kemudian di siang hari ia mengirim sms bahwa sepatunya sudah dikirim lewat paket mobil antar kota. Mungkin sampainya malam hari.

Aku yang hari ini sangat mengantuk karena jaga malam hari Senin lalu, sempat terkejut ketika jam 12 lewat sedikit paket kirimannya datang. Si supir mengeluh nomorku tidak bisa dihubungi.

Yeah… don’t mess with me when I am sleepy.  Dalam keadaan mengantuk aku mendengarkan saja komplain si supir. Bapak itu sampai menunjukkan history call-nya yang berkali-kali.

Bener sih, dia nelpon berkali-kali.

Sayangnya, nomor yang dia tuju bukan nomor punya aku. Hihihi.

Seharusnya angka terakhir adalah 4 tapi si supir [yang mungkin juga mengantuk] menekan angka 7. Ck ck ck.

Maaf ya Pak, lain kali hati-hati kalau nekan nomornya. Ujarku setengah mengantuk. Si bapak pun terdiam dan pergi. Oh ya, aku lupa apa sudah bilang makasih sama dia…hehe…

Yang jelas, aku sudah kirim sms bilang makasih sama Abah. Aku suka sepatunya. Thanks Abah. Love you.

tampak samping :D

tampak samping :D

sepatu barunya langsung dipakai

sepatu barunya langsung dipakai

*damn, aku belum menyelesaikan tugas menulis laporan pemeriksaan luar mayat! kumpulnya besok pagi!

Assalamu’alaikum.

It’s Monday again.

Minggu kelima di stase Forensik dan Medikolegal. Itu artinya minggu ujian dan tugas-tugas yang — seharusnya sudah tapi nyatanya — belum ku selesaikan.

Hari ini juga hari pertama di bulan Februari, wondering apa yang akan berbeda pada bulan ini. Wisuda? Oh yeah. It’s still too early to talk about it.

Some of friends complain that I didn’t write lately. I am so sorry for that. Kenyataannya, sampai ke rumah pada pukul sembilan malam setelah beraktivitas seharian itu menutup segala kemungkinan lain untuk memulai aktivitas baru.

Aku biasanya memilih duduk sebentar, minum susu, makan cemilan, membaca lanjutan berita mengenai Australia Open — congrats Roger for your 16th title, it was a good news untuk menutup malam.

Aku juga mendonlot beberapa highlights pertandingan tenis yang menurutku cukup menyenangkan untuk ditonton. Seperti sekarang, saat aku sedang mengetikkan jari di atas keyboard, Hingis vs Venus Williams sedang jalan. Wimbledon 2000.

Sepuluh tahun yang lalu. Yeah… sebenarnya waktu sepanjang itu terasa atau tidak? Ada beberapa saat di mana aku akan merasakan hidup jadi begitu lama dan sejujurnya ingin segera melewatinya, namun terkadang hari-hari berlalu bagai kilasan slide show foto-foto Australian Open yang sedang ku lihat sekarang, cepat dan beberapa tidak sempat ku resapi dalam memori.

Menulis seperti ini sangat membantu untuk mengumpulkan memori-memori yang terserak itu.

Meski terkadang hanya seperti coretan-coretan iseng, hehe.

Aku sudah memikirkan jadwal hari ini: jaga pagi di IGD sampai jam 2, kemudian lanjut lagi jaga IGD sampai jam tujuh besok pagi. OH MY GOD. Mungkin aku harus mencuri waktu di antaranya untuk mengerjakan beberapa tugas laporan jaga dan pemeriksaan luar mayat yang seperti ku katakan sebelumnya: belum ku selesaikan.

I called mama, abah dan kak dina two days ago, sudah cukup lama tidak bicara dengan mereka. Hanya bertukar kabar, Abah dan Mama sehat-sehat saja, kak Dina akan menyusul suaminya di Jerman, Asma sudah semakin lancar bicara namun berat badannya masih sulit untuk naik, ia juga anehnya sangat senang mengupil, Arini sedang libur semester. Ah ya, aku belum menelepon Ainul.

I will add it as my to do list for today.

Sebelum jam tujuh pagi ini aku harus memenuhi daftar ini: mandi, menyeterika, merapikan tempat tidur, and yeah… memosting tulisan ini.

Good morning all. Have a nice Monday.