Archive for the ‘2010’ Category

Dan buat siapa yang belum tahu, sebelum menulis di blog www.auliarahman.com ini saya sudah menulis di www.auliasedangbercerita.blogspot.com dan www.me-as-setya.blogspot.com serta beberapa halaman yang terbengkalai lainnya.

Kedua blog tersebut sudah saya hapus dan isinya saya merger ke blog ini. Bagi yang sudah mengikuti tulisan saya [haha, malu sekali menuliskan kalimat ini] sejak dulu maka akan melihat bahwa tiap blog saya menulis dengan berbeda. Di auliasedangbercerita.blogspot saya akan menulis:

saya—gw

serta cara menulis yang asal dan cablak. Tidak seserius sekaranglah. [huek]

Di me-as-setya.blogspot, saya hanya menulis puisi yang dilengkapi dengan gambar-gambar buatan saya sendiri. Maaf karena tag-nya masih serabutan, jadi kalau sekarang mengklik tag ‘puisi’ tidak akan semua puisi yang keluar, mudah-mudahan saya diberi waktu kosong yang benar-benar lowong untuk merapikan semua file-file itu. :)

Ah ya, saya juga masih aktif menulis di gangren.multiply.com, berat rasanya untuk berhenti menulis di sana. Jika ada waktu, silakan juga mampir di sana ya. Saya akan senang mendapati komen kalian semua.

Satu lagi, kebiasaan pindah rumah ini bukan karena saya tidak setia loh… [apa hubungannya coba ngomong beginian? :D ]

Selamat menanti waktu berbuka…

medbookAssalamu’alaikum.

Sudah beberapa waktu sejak saya terakhir kali serius menulis blog. Bukan berarti puisi-puisi yang nangkring di bawah ini tidak serius, tapi maksud saya adalah… you know… menulis yang membuat saya berfikir tentang apa yang ingin ditulis dan pentingkah hal itu untuk ditulis.

Haha. Silakan dirunut ke bawah untuk memastikan betapa banyak sampah yang saya tulis sebelum ini — yang saat saya menulisnya, saya pikir adalah mahakarya. Doh.

Memasuki sepuluh hari puasa yang terakhir, dengan sangat menyesal saya katakan saya masih belum bisa semaksimal mungkin mengisi Ramadhan ini. Tanpa alasan jelas.

Buruk sekali.

Okay, jadwal di stase Bedah memang lumayan berat, tapi sebenarnya di dalam setiap kesempitan itu kita semakin awas akan adanya kesempatan bukan? Kita jadi mencari-cari waktu lowong yang mungkin dalam aktivitas ringan sebelumnya, tidak akan terpikirkan.

Setengah jam menjelang mandi pagi misalnya.
Satu jam sebelum tidur malam.
Setengah jam di antara rapatnya jadwal laporan jaga-follow up pasien-visite dokter-jaga IGD-masuk kamar operasi-menulis laporan kasus dan referat-bla bla bla.

Masih banyak waktu sebenarnya.

Dan saya sangat mudah tergoda untuk menghabiskannya dengan… TIDUR.

*senyum lebar tanpa berdosa*

Semoga kalian bisa mengisi Ramadhan ini dengan kegiatan yang jauh lebih baik daripada yang telah saya lakukan.

Oya, tidak jadi ah menulis sesuatu yang perlu dipikirkan, haha. Saya curcol saja.

Sekarang sedang meriang. Beberapa anggota yang lain di stase ini juga sudah jatuh bangun kena serangan virus: batuk, bersin, demam, pilek, you name it. Kurang istirahat dan asupan makanan yang tidak seimbang bikin semua jadi tambah buruk. Belum lagi cuaca yang sedang labil. Panas-dingin-hujan-terik ganti-gantian.

Saya nggak ngeluh. Cuma sedang cerita perkembangan diri saya. Saya nggak akan ngeluh meski sedang meriang karena saya masih bisa makan dengan baik, minum susu dengan cukup serta bisa makai internet.

Tapi tetep, lumayan khawatir kalau besok tepar. Sekarang sudah pakai jaket dua lapis biar nggak menggigil.

Tugas masih banyak numpuk. Doain ya semoga semua bisa selesai dengan baik meski mungkin tidak akan tepat jadwal yang sudah ditetapkan. Ck ck ck.

Selamat beribadah. Selamat istirahat. Selamat beraktivitas. I love you all.

Seperti yang tertulis di blog-nya Aulia ini, verba volant, scripta manent – spoken words fly away, written ones stay, maka saya ingin menulis. Yah meskipun dibanding menulis, saya lebih senang mengklasifikasikan orang. Misalnya saja, berdasarkan tampang, orang terbagi ke dalam 2 kategori, yaitu orang bertampang preman (Aulia, misalnya) dan yang bertampang korban preman (saya, misalnya). :D

Demikian juga dalam tulis menulis, orang terbagi ke dalam 2 kategori, yaitu yang berbakat menulis (contohnya Aulia) dan yang berbakat merusak tulisan orang lain (contohnya saya). :D

Tapi dari bermula dengan merusak tulisan orang lain itu (red: Aulia yang paling sering jadi korbannya), timbul keinginan untuk belajar menulis. Keinginan itu pun difasilitasi oleh Aulia dengan “meminjamkan” blog-nya ini untuk saya belajar menulis. Yah mungkin dia pikir ini lebih baik daripada saya terus-menerus merusak hasil karyanya, hehe…

Akhirnya, saya berhasil menghasilkan hasil-hasil tulisan yang menjadi sumber penghasilan (haiz…, ngomong opo toh iki?). Alhamdulillah. :)

Jadi ceritanya, kemarin saya dapat kabar dari penerbit Yudhistira, bahwa buku-buku saya sudah beredar di toko-toko buku di seluruh Indonesia. Yeyeyeye…., senangnyaaa… (jungkir-balik-kayang-salto-pushup100x).

Hihihi…, jangan ngebayangin buku ini semacam novel Harry Potter ya. Ini nggak jauh-jauh dari bidang saya. Ya, yang diterbitkan adalah buku “Mudah Berhitung Matematika SD” untuk kelas 1 sampai dengan kelas 6 :D . Untuk yang sekolah menengah atas, masih dalam proses pencetakan. Sedangkan untuk yang tingkat universitas, masih dalam proses penulisan. Entahlah kapan tahap penulisan itu berakhir, karena saya justru lebih heboh dikejar-kejar supervisor untuk nyelesein disertasi. :D

lihat bukuku... penuh dengan warna...

lihat bukuku... penuh dengan warna...

ini buku baru berwarna biru. :D

ini buku baru berwarna biru. :D

Semoga saja buku-buku itu bisa memberikan manfaat (walaupun sedikit) kepada bangsa kita (haiz.., bahasanya…).

ayo... ada berapa warna di sana...? :D

ayo... ada berapa warna di sana...? :D

tinggalkan komik kalian, miliki buku ini. :)

tinggalkan komik kalian, miliki buku ini. :)

Mohon doanya agar saya selalu diberikan kesehatan dan kesempatan untuk memberikan manfaat sebanyak-banyaknya kepada orang lain.

Akhir kata, selamat menikmati dan mengkritisi buku-buku saya.

*sambil lirik sinis ke Aulia, “wahai anak muda, mana tulisanmu yang sudah diterbitkan?”* :P

Lalu kita bicara secara terbuka
Tentang hari yang terlewati

Saat aku dan kamu masih satu hati

Sungguh gerimis pagi
Aku merindukanmu sejak malam buta
sekering tinta di tanganku
yang tak mampu menggoreskan kata

Saat kau datang
hingga kau pergi

Terlalu aku merindukanmu
Begitu aku menantikanmu

Subuh itu, kita bertemu

Pekanbaru, 29 Juli 2010

Segera, aku akan meninggalkanmu

Dalam diam yang terusik
ada namamu yang begitu sejuk
memeluk hatiku
memenjarakan nafasku
dalam cinta

Aku mencoba mengerti
mengapa langkah kita tak pernah sama
tak pernah satu

Kita seiring sejalan
tapi tak pernah bertemu

Ternyata cinta bukan lagi alasan untuk kita
terus bersama
ketika hidup tak begitu ramah
padaku
padamu
pada kita

Cinta adalah kekuatan yang pernah buat kita tersenyum

tapi juga yang memisahkan kita

Dalam diam yang terusik
selalu ada namamu yang begitu sejuk
selalu memeluk hatiku
selalu dalam nafasku

aku cinta padamu

tapi segera, aku meninggalkanmu.

Pekanbaru, 28 Juli 2010

I am not scared. Really.

I am not scared. Really.

Jam sudah menunjukkan pukul 10.30 malam saat bis menurunkan saya di halte depan kampus. Seperti biasanya, saya tidak menjumpai siapapun di jalan sekitar kampus, sebab kehidupan di Perth berakhir pukul 8 malam, saat toko-toko tutup.

Saya masih harus berjalan sekitar 1 km lagi dari depan kampus untuk sampai ke apartemen saya, menyusuri jalan di dalam kampus. Sebagai gambaran, kampus saya didesain menyerupai sebuah kastil, dengan pohon-pohon besar di kanan-kirinya, sehingga suasana mencekam menjadi terasa sekali di malam hari.

Can you see the tree? Coz I can't see the tree. :P

Can you see the tree? Coz I can't see the tree. :P

Nah, saat saya harus melewati sebuah pohon besar, tiba-tiba ada bayangan putih tepat di bawah pohon. Dengan rasa takut yang amat luar biasa, saya tetap menyeret langkah saya untuk melewati pohon tersebut, dengan terus menerus membaca doa – doa apa saja yang saya hapal, mulai doa mau makan, sampai doa sebelum tidur – :P

Saat saya semakin dekat dengan pohon tersebut, maka wujud bayangan itu semakin jelas. Ternyataaaa…. itu seekor kucing anggora. Bukan sekedar “kucing anggora”, tapi seekor “kucing anggora yang luar biasa cantik dengan bulu tebal seputih salju yang hampir membuat jantung saya copot”.

Oh ya, mungkin anda tidak dapat menangkap letak dimana anehnya. Anehnya adalah karena kucing itu berkeliaran. Sebab di Australia, anda tidak akan menemukan kucing berkeliaran di jalanan. Apalagi melihat ayam berkeliaran di sekitar rumah. Yang lebih tidak mungkin lagi, melihat kambing di jalan (hehe.., jadi teringat ibu saya di Indonesia, yang pernah sedemikian kesal dengan kambing tetangga sebab memakan tanaman kesayangannya). Kalaupun anda melihat kambing di jalan, itu pasti di restoran India, dan itupun sudah dalam bentuk Sop Kambing  :P

Oke, kembali ke kucing tadi. Sebenarnya timbul hasrat hati untuk menculik kucing itu. Karena pasti dia kedinginan di luar sana, saat winter seperti ini. Tapi langsung terbayang wajah pemilik apartemen saya (yang kayaknya sudah lupa bagaimana caranya tersenyum sejak berabad-abad lalu) kalau dia sampai tahu ada kucing di dalam rumah. Hwahh.. urusan menyewa apartemen di Australia memang menyebalkan. Bahkan kalau kita sampai memasang 1 paku di dinding pun akan langsung didenda.

Akhirnya saya hanya bisa mengucapkan salam perpisahan dengan si “kucing anggora yang luar biasa cantik dengan bulu tebal seputih salju yang hampir membuat jantung saya copot” itu. Entah bagaimana nasib kucing itu saat ini. Semoga dia segera ditemukan oleh tuannya yang sebenarnya.

and you already know the castil

I promise you, no cat here.

And I've told you that there is no cat. OK.

And I've told you that there is no cat. OK.

Mata ini benar-benar berat rasanya. Tapi mau bagaimana lagi, hati ini masih tidak tenang karena urusan belum selesai.

Satu hari kembali berlalu dengan ketidakpastian yang masih menggantung. Tidur merupakan pelarian terbaik namun bangun adalah mimpi buruk yang begitu nyata. Karena pagi adalah jawaban yang masih berupa tanda tanya.

Adakah bahagia di sana?

its like a heaven

it's like a heaven

Aku percaya pada akhir yang bahagia. Aku percaya pada jalan yang terjal berliku yang mesti ditempuh seseorang demi mencapai keinginannya. Pertanyaannya adalah seberapa berat esok bagiku?

Karena hidup adalah apa yang kau pikirkan, maka aku berusaha membuat pikiran tunduk pada keniscayaan. Bahwa di akhir nanti, tidak akan ada tangis yang mengalir.

Semua akan baik-baik saja. Aku mengandalkan dirimu.

Selamat malam dunia yang gerimis. Aku akan meninggalkanmu sejenak. Ramahlah saat bertemu aku besok pagi.


Malam itu.
Bulan terang di atas kamarku.
Kami bertatapan.
Tak tidur aku dibuatnya.
Dimandikan cahaya.

Malam itu.
Bulan terang di mataku.

Pekanbaru, 8 Januari 2010