Cerita
Satu
“Kau bilang apa sama ibu?!” aku meneguk segelas air yang baru ku ambil dari kulkas.
“Kau sedang bicara padaku?” tanya Surya. Ia sedang mengupas bawang. Aku menoleh padanya dengan kesal.
“Tentu saja denganmu! Kenapa kau bilang tentang aku membuat masalah lagi? Kau kan sudah janji…”
“Kapan aku janji?” masih sambil meneruskan pekerjaannya, Surya menyahut.
“Apa?! Kau… kau tak merasa pernah berjanji padaku?!” ku dekati ia dengan kesal.
“Aku sedang mengupas bawang. Ku sarankan jangan mendekat.”
Langkahku langsung terhenti. Aku alergi bawang mentah. Bisa ku dengar Surya terkikik saat aku menarik kursi dan kembali duduk.
Ku hitung sudah lebih dari lima menit aku menunggu Surya menyelesaikan pekerjaannya. Ku ketuk-ketuk tepi meja dengan kesal. Aku memang sedang kesal?sangat kesal. Tadi di sekolah aku membuat Bu Tirta Sadewo, guru Biologi baru kelasku menangis. Salahnya. Berpikiran sempit, ku pikir itu kata-kata yang tepat untuk dirinya. Walhasil, aku di tegur ibuku. Ya. Ibuku. Aku baru mencapai pintu masuk saat ibu menyambutku dan memasukkan banyak kata-kata nasihat ke dalam telingaku.
Guru di sekolah tak mampu menyalahkanku. Aku memang pandai berkelit. Hanya ibuku yang sampai saat ini selalu berhasil menyudutkanku. Bapak tak pernah, selama ini ia memberi kewenangan peradilan pada ibu. Entah nanti, kalau ibu sudah tak mampu lagi menanganiku. Tapi sepertinya itu tak akan pernah terjadi. Selama empat belas tahun?dikurangi saat aku belum bisa mengungkapkan kalimat dengan gamblang, aku belum pernah bisa membalikkan kalimat ibu. Mulutku seperti terkunci. Aku pernah berpikir ibu menggunakan mantra-mantra atau sejenis jampi-jampi lainnya.
Itu artinya ibumu punya kharisma. Surya pernah mengatakan itu padaku saat aku mengungkapkan keluhanku. Surya. Anak itu. Tak mungkin ibu tahu dengan sendirinya. Selalu saja ia mengadu. Kekesalanku muncul lagi.
“Kau belum selesai juga ya?!”
“Ha?” Surya berpaling dengan wajah tak berdosa.
“Berapa banyak sih, bawang yang kau kupas?”
“Aku sudah selesai.”
“Apa?!!” tanpa sadar aku berteriak keras. Bangkit dari kursiku. “Kau sudah selesai?”
“Ya? Kenapa memangnya?”
Aku mendekat. Ku pandangi Surya yang menatapku, matanya mengerjap-ngerjap.
“Kau tahu… aku tadi lagi marah…argh…….ouwfh…” ku lepaskan cekalan tanganku pada Surya, memegang mataku.
“Ah. Maaf. Dek…nggak papa?”
Ku rasakan mataku perih dan mulai berair, hidungku juga mulai pedih. “Tanganmu..!!!”
“Tanganku?” Surya mengangkat kedua tangannya. “Ups. Maaf. Bau bawang ya?”
“Cuci bodoh! Ambilkan aku air?obatku juga!” tukasku cepat. “Ayo..! cepat…ssshh… kenapa kau lambat sekali?!” aku masih menunduk. Ku rasakan mukaku panas.
“Okay. Aku ambilkan obatmu. Kau… tunggu di sini, cuci dulu mukamu di keran.” Surya melangkah. Gerakannya lebih cepat sekarang. “Awas! Itu gelas di belakangmu!”
Hampir aku menyenggol jatuh gelas berisi air yang tadi ku minum. Ku tenggelamkan kepalaku ke bawah keran. Membiarkan air dingin membasahi rambut dan seluruh wajahku. Membuat rambutku yang tadi rapi jadi berantakan.
“Ini handukmu.” Surya datang memberikan handuk.
“Obat! Aku minta…” mulutku tertutup, Surya membungkus kepalaku dengan handuk itu. “Aku bisa sendiri…!”
“Makanya… lain kali kau harus hati-hati,”
“Kau diam. Mana obatku?” aku menukas. Surya memberikan botol kecil obat padaku. Aku mengambilnya cepat. “Ini kan salahmu, cepat minta maaf.”
“Iya deh, aku minta maaf. Puas?” masih ku dengar Surya mengikik. Sudut mataku menangkap ia membuka kulkas. Mengambil sebuah apel.
Ku terima apel yang disodorkannya. “Kau belum sepenuhnya dimaafkan—ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?”
Surya memang sedang menatapku atau lebih tepatnya memperhatikan wajahku, perlahan ia mendekatkan wajahnya, matanya mengarah pada dahiku.
“Kau kenapa sih?” aku akhirnya jengah. Ku dorong kepalanya menjauhi mukaku.
“Dek…dahimu…”
“Dahiku… kenapa?!”
Wajah Surya berubah, perlahan bibirnya yang mungil membentuk senyuman. “Ih… Adek! Adek ada jerawat…!”
“Apa? Jerawat?! No way…! Nggak mungkin!”
“Apanya yang nggak mungkin? Tuh… nih…!!” Surya menggencet dahiku dengan keras. Dengan keras. Mungkin ingin membalas saat ku dorong kepalanya tadi.
“Ah. Masa?!”
“Ah…hem… kau naksir cewek ya?”
Keningku makin berkerut. Sialan. Masa sih? Dahiku berjerawat? Dahiku yang mulus? Ah. Pasti si Surya mau ngibulin aku, mau lari dari masalah, tapi… penasaran juga. Ku raba dahiku, memang sedikit bengkak.
“Tuh kan. Kau berjerawat.”
“Ah. Rese…”
Aku bergegas keluar dari dapur. Menuju kamarku. Sialan. Masih kudengar Surya bersuit-suit dari dapur.
*****
Leave a Reply