Author Archive

Dan buat siapa yang belum tahu, sebelum menulis di blog www.auliarahman.com ini saya sudah menulis di www.auliasedangbercerita.blogspot.com dan www.me-as-setya.blogspot.com serta beberapa halaman yang terbengkalai lainnya.

Kedua blog tersebut sudah saya hapus dan isinya saya merger ke blog ini. Bagi yang sudah mengikuti tulisan saya [haha, malu sekali menuliskan kalimat ini] sejak dulu maka akan melihat bahwa tiap blog saya menulis dengan berbeda. Di auliasedangbercerita.blogspot saya akan menulis:

saya—gw

serta cara menulis yang asal dan cablak. Tidak seserius sekaranglah. [huek]

Di me-as-setya.blogspot, saya hanya menulis puisi yang dilengkapi dengan gambar-gambar buatan saya sendiri. Maaf karena tag-nya masih serabutan, jadi kalau sekarang mengklik tag ‘puisi’ tidak akan semua puisi yang keluar, mudah-mudahan saya diberi waktu kosong yang benar-benar lowong untuk merapikan semua file-file itu. :)

Ah ya, saya juga masih aktif menulis di gangren.multiply.com, berat rasanya untuk berhenti menulis di sana. Jika ada waktu, silakan juga mampir di sana ya. Saya akan senang mendapati komen kalian semua.

Satu lagi, kebiasaan pindah rumah ini bukan karena saya tidak setia loh… [apa hubungannya coba ngomong beginian? :D ]

Selamat menanti waktu berbuka…

medbookAssalamu’alaikum.

Sudah beberapa waktu sejak saya terakhir kali serius menulis blog. Bukan berarti puisi-puisi yang nangkring di bawah ini tidak serius, tapi maksud saya adalah… you know… menulis yang membuat saya berfikir tentang apa yang ingin ditulis dan pentingkah hal itu untuk ditulis.

Haha. Silakan dirunut ke bawah untuk memastikan betapa banyak sampah yang saya tulis sebelum ini — yang saat saya menulisnya, saya pikir adalah mahakarya. Doh.

Memasuki sepuluh hari puasa yang terakhir, dengan sangat menyesal saya katakan saya masih belum bisa semaksimal mungkin mengisi Ramadhan ini. Tanpa alasan jelas.

Buruk sekali.

Okay, jadwal di stase Bedah memang lumayan berat, tapi sebenarnya di dalam setiap kesempitan itu kita semakin awas akan adanya kesempatan bukan? Kita jadi mencari-cari waktu lowong yang mungkin dalam aktivitas ringan sebelumnya, tidak akan terpikirkan.

Setengah jam menjelang mandi pagi misalnya.
Satu jam sebelum tidur malam.
Setengah jam di antara rapatnya jadwal laporan jaga-follow up pasien-visite dokter-jaga IGD-masuk kamar operasi-menulis laporan kasus dan referat-bla bla bla.

Masih banyak waktu sebenarnya.

Dan saya sangat mudah tergoda untuk menghabiskannya dengan… TIDUR.

*senyum lebar tanpa berdosa*

Semoga kalian bisa mengisi Ramadhan ini dengan kegiatan yang jauh lebih baik daripada yang telah saya lakukan.

Oya, tidak jadi ah menulis sesuatu yang perlu dipikirkan, haha. Saya curcol saja.

Sekarang sedang meriang. Beberapa anggota yang lain di stase ini juga sudah jatuh bangun kena serangan virus: batuk, bersin, demam, pilek, you name it. Kurang istirahat dan asupan makanan yang tidak seimbang bikin semua jadi tambah buruk. Belum lagi cuaca yang sedang labil. Panas-dingin-hujan-terik ganti-gantian.

Saya nggak ngeluh. Cuma sedang cerita perkembangan diri saya. Saya nggak akan ngeluh meski sedang meriang karena saya masih bisa makan dengan baik, minum susu dengan cukup serta bisa makai internet.

Tapi tetep, lumayan khawatir kalau besok tepar. Sekarang sudah pakai jaket dua lapis biar nggak menggigil.

Tugas masih banyak numpuk. Doain ya semoga semua bisa selesai dengan baik meski mungkin tidak akan tepat jadwal yang sudah ditetapkan. Ck ck ck.

Selamat beribadah. Selamat istirahat. Selamat beraktivitas. I love you all.

Lalu kita bicara secara terbuka
Tentang hari yang terlewati

Saat aku dan kamu masih satu hati

Sungguh gerimis pagi
Aku merindukanmu sejak malam buta
sekering tinta di tanganku
yang tak mampu menggoreskan kata

Saat kau datang
hingga kau pergi

Terlalu aku merindukanmu
Begitu aku menantikanmu

Subuh itu, kita bertemu

Pekanbaru, 29 Juli 2010

Segera, aku akan meninggalkanmu

Dalam diam yang terusik
ada namamu yang begitu sejuk
memeluk hatiku
memenjarakan nafasku
dalam cinta

Aku mencoba mengerti
mengapa langkah kita tak pernah sama
tak pernah satu

Kita seiring sejalan
tapi tak pernah bertemu

Ternyata cinta bukan lagi alasan untuk kita
terus bersama
ketika hidup tak begitu ramah
padaku
padamu
pada kita

Cinta adalah kekuatan yang pernah buat kita tersenyum

tapi juga yang memisahkan kita

Dalam diam yang terusik
selalu ada namamu yang begitu sejuk
selalu memeluk hatiku
selalu dalam nafasku

aku cinta padamu

tapi segera, aku meninggalkanmu.

Pekanbaru, 28 Juli 2010

Mata ini benar-benar berat rasanya. Tapi mau bagaimana lagi, hati ini masih tidak tenang karena urusan belum selesai.

Satu hari kembali berlalu dengan ketidakpastian yang masih menggantung. Tidur merupakan pelarian terbaik namun bangun adalah mimpi buruk yang begitu nyata. Karena pagi adalah jawaban yang masih berupa tanda tanya.

Adakah bahagia di sana?

its like a heaven

it's like a heaven

Aku percaya pada akhir yang bahagia. Aku percaya pada jalan yang terjal berliku yang mesti ditempuh seseorang demi mencapai keinginannya. Pertanyaannya adalah seberapa berat esok bagiku?

Karena hidup adalah apa yang kau pikirkan, maka aku berusaha membuat pikiran tunduk pada keniscayaan. Bahwa di akhir nanti, tidak akan ada tangis yang mengalir.

Semua akan baik-baik saja. Aku mengandalkan dirimu.

Selamat malam dunia yang gerimis. Aku akan meninggalkanmu sejenak. Ramahlah saat bertemu aku besok pagi.

Ku tlah mendaki bukitmu. Turuni lembahmu.
Beristirahat di tepi sungaimu.
Rasa lelah itu selalu ada.
Ku sudah lewati setapakmu. Renangi lautmu.
Tidur di tepian kawahmu.
Rasa bersalah itu selalu ada.
Ini perjalananku di duniamu.
Maka maafkan aku.
Ingin ku sampai di sana, dengan bebas merdeka lalu kau tersenyum.
Meski mungkin sekarang kau marah.
Karena aku tlah jatuh jauh di bawah.

Assalamu’alaikum.

Saya sering mendengar kata yang digunakan di atas — judul blog ini maksud saya, bukan kata salam yang saya gunakan —, namun tidak pernah benar-benar mengerti makna sebenarnya. Baru saja saya cek di sini [silakan cari sumber lain untuk makna yang lebih dalam] bahwa sama seperti asal katanya, frase tersebut bermakna kemampuan untuk mengerjakan beberapa pekerjaan dalam satu waktu. Hasilnya bisa bagus, buruk, lebih bagus, atau lebih buruk dibandingkan dengan kerja biasa. Salahkan saya jika salah mengartikannya.

Yang jelas, salah satu kebiasaan buruk saya adalah melakukan multitasking itu. Sekarang saja, saya sedang menonton Julie & Julia, masih tersisa cd kedua; memantau perkembangan turnamen bulutangkis di Malaysia lewat livescore, serta tentu saja memikirkan apa yang akan saya tulis di blog ini karena saya sudah terlanjur menulis akan menulis lebih banyak lagi. Ah ya, saya juga belum makan siang.

Secara pribadi saya lebih menyenangi pekerjaan yang dikerjakan satu-satu. Kenikmatannya lebih terasa. Membaca buku sambil mendengarkan music? No way. Membaca buku sambil tiduran? Janganlah. Saya akan lebih senang jika bisa mengerjakan mereka secara terpisah, karena itu tadi, kenikmatannya jadi lebih terasa. Silakan sebut alasan lainnya jika setuju dengan saya.

Tapi terkadang mepetnya waktu — yang bisa terjadi karena berbagai faktor salah satunya kemalasan saya — sering menjadikan waktu yang tersisa itu harus benar-benar dibagi secara teliti untuk begitu banyak pekerjaan yang masih tersisa, bahkan kalau perlu itu tadi: multitasking — makan sambil belajar, mencuci sambil masak, membersihkan kamar mandi sambil mandi, you name it.

Saya biasanya akan menjadikan multi-tasking ini sebagai suatu alarm, bahwa tingkat kemalasan saya sedang tinggi dan harus segera diturunkan. Itu saja.

Mendekati Ramadhan, seharusnya manajemen waktu kita sudah harus lebih baik bukan? Ah ya, I’m using twitter now, you can follow me here.

Selamat siang. Selamat bermultitasking.

Senangnya.

Semoga bisa kembali menulis lebih banyak. See ya.

22

Happy birthday. Yea….:D:D

Laptop saya sedang bermasalah…

Semoga cepat sembuh buat laptopnya, semoga ujian radiologi berjalan lancar, semoga bisa tetap sehat dan bersemangat…

Selamat berulang tahun bagi yang berulang tahun hari ini.
:)

Aku berpijak di tepian waktu yang mengabur
Memegangi nafas
Mencoba melangkah
Satu kali lagi
Satu hari lagi
Ku yakinkan hati untuk berbuat
Karena hidup benar-benar sekali
Di tepian waktu ini aku menunggu
Ia mengecupku

Pekanbaru, 25 April 2010