Archive for July, 2010

Lalu kita bicara secara terbuka
Tentang hari yang terlewati

Saat aku dan kamu masih satu hati

Sungguh gerimis pagi
Aku merindukanmu sejak malam buta
sekering tinta di tanganku
yang tak mampu menggoreskan kata

Saat kau datang
hingga kau pergi

Terlalu aku merindukanmu
Begitu aku menantikanmu

Subuh itu, kita bertemu

Pekanbaru, 29 Juli 2010

Segera, aku akan meninggalkanmu

Dalam diam yang terusik
ada namamu yang begitu sejuk
memeluk hatiku
memenjarakan nafasku
dalam cinta

Aku mencoba mengerti
mengapa langkah kita tak pernah sama
tak pernah satu

Kita seiring sejalan
tapi tak pernah bertemu

Ternyata cinta bukan lagi alasan untuk kita
terus bersama
ketika hidup tak begitu ramah
padaku
padamu
pada kita

Cinta adalah kekuatan yang pernah buat kita tersenyum

tapi juga yang memisahkan kita

Dalam diam yang terusik
selalu ada namamu yang begitu sejuk
selalu memeluk hatiku
selalu dalam nafasku

aku cinta padamu

tapi segera, aku meninggalkanmu.

Pekanbaru, 28 Juli 2010

I am not scared. Really.

I am not scared. Really.

Jam sudah menunjukkan pukul 10.30 malam saat bis menurunkan saya di halte depan kampus. Seperti biasanya, saya tidak menjumpai siapapun di jalan sekitar kampus, sebab kehidupan di Perth berakhir pukul 8 malam, saat toko-toko tutup.

Saya masih harus berjalan sekitar 1 km lagi dari depan kampus untuk sampai ke apartemen saya, menyusuri jalan di dalam kampus. Sebagai gambaran, kampus saya didesain menyerupai sebuah kastil, dengan pohon-pohon besar di kanan-kirinya, sehingga suasana mencekam menjadi terasa sekali di malam hari.

Can you see the tree? Coz I can't see the tree. :P

Can you see the tree? Coz I can't see the tree. :P

Nah, saat saya harus melewati sebuah pohon besar, tiba-tiba ada bayangan putih tepat di bawah pohon. Dengan rasa takut yang amat luar biasa, saya tetap menyeret langkah saya untuk melewati pohon tersebut, dengan terus menerus membaca doa – doa apa saja yang saya hapal, mulai doa mau makan, sampai doa sebelum tidur – :P

Saat saya semakin dekat dengan pohon tersebut, maka wujud bayangan itu semakin jelas. Ternyataaaa…. itu seekor kucing anggora. Bukan sekedar “kucing anggora”, tapi seekor “kucing anggora yang luar biasa cantik dengan bulu tebal seputih salju yang hampir membuat jantung saya copot”.

Oh ya, mungkin anda tidak dapat menangkap letak dimana anehnya. Anehnya adalah karena kucing itu berkeliaran. Sebab di Australia, anda tidak akan menemukan kucing berkeliaran di jalanan. Apalagi melihat ayam berkeliaran di sekitar rumah. Yang lebih tidak mungkin lagi, melihat kambing di jalan (hehe.., jadi teringat ibu saya di Indonesia, yang pernah sedemikian kesal dengan kambing tetangga sebab memakan tanaman kesayangannya). Kalaupun anda melihat kambing di jalan, itu pasti di restoran India, dan itupun sudah dalam bentuk Sop Kambing  :P

Oke, kembali ke kucing tadi. Sebenarnya timbul hasrat hati untuk menculik kucing itu. Karena pasti dia kedinginan di luar sana, saat winter seperti ini. Tapi langsung terbayang wajah pemilik apartemen saya (yang kayaknya sudah lupa bagaimana caranya tersenyum sejak berabad-abad lalu) kalau dia sampai tahu ada kucing di dalam rumah. Hwahh.. urusan menyewa apartemen di Australia memang menyebalkan. Bahkan kalau kita sampai memasang 1 paku di dinding pun akan langsung didenda.

Akhirnya saya hanya bisa mengucapkan salam perpisahan dengan si “kucing anggora yang luar biasa cantik dengan bulu tebal seputih salju yang hampir membuat jantung saya copot” itu. Entah bagaimana nasib kucing itu saat ini. Semoga dia segera ditemukan oleh tuannya yang sebenarnya.

and you already know the castil

I promise you, no cat here.

And I've told you that there is no cat. OK.

And I've told you that there is no cat. OK.

Mata ini benar-benar berat rasanya. Tapi mau bagaimana lagi, hati ini masih tidak tenang karena urusan belum selesai.

Satu hari kembali berlalu dengan ketidakpastian yang masih menggantung. Tidur merupakan pelarian terbaik namun bangun adalah mimpi buruk yang begitu nyata. Karena pagi adalah jawaban yang masih berupa tanda tanya.

Adakah bahagia di sana?

its like a heaven

it's like a heaven

Aku percaya pada akhir yang bahagia. Aku percaya pada jalan yang terjal berliku yang mesti ditempuh seseorang demi mencapai keinginannya. Pertanyaannya adalah seberapa berat esok bagiku?

Karena hidup adalah apa yang kau pikirkan, maka aku berusaha membuat pikiran tunduk pada keniscayaan. Bahwa di akhir nanti, tidak akan ada tangis yang mengalir.

Semua akan baik-baik saja. Aku mengandalkan dirimu.

Selamat malam dunia yang gerimis. Aku akan meninggalkanmu sejenak. Ramahlah saat bertemu aku besok pagi.

Hi there, perkenalkan saya Donny. Lagi menimba ilmu berinternet dari Aulia. Jadi untuk sementara boleh numpang di “rumah”nya Aulia ini. Nanti kalo udah pinter, bisa bikin “rumah” sendiri, hehe..

So, saat ini status Aulia adalah sebagai bapak kos (yang mudah-mudahan kagak galak), dengan meminjamkan sebuah “kamar”nya di rumahnya ini. Bapak kos, saya janji nggak akan menghancurkan kamarnya. Yah kalo lecet dikit sih nggak papa kan ya? hehe

Sedikit tentang saya, saat ini saya sedang melanjutkan sekolah di negeri kangguru, tepatnya di University of Western Australia. Mudah-mudahan “kamar” yang dipinjamkan Aulia ini bisa jadi ajang menuliskan banyak hal yang saya alami selama proses sekolah ini, atau sekedar jadi tempat sampah setelah dimaki-maki supervisor karena telat menyerahkan  paper sebelum deadline, hehe…  Aduh, bapak kos, kalaupun nanti “kamar”nya saya jadiin tempat sampah, saya janji baunya nggak akan sampe ke “kamar” bapak, hehe.., peace bro

Oke deh, segini dulu secuil dari saya. Mudah-mudahan bisa lebih produktif ke depannya. Either produktif menulis di blog ini, or menulis paper untuk memuaskan supervisor saya.

See you somewhere, guys…

Donny as Harry Potter

Donny as Harry Potter

Ku tlah mendaki bukitmu. Turuni lembahmu.
Beristirahat di tepi sungaimu.
Rasa lelah itu selalu ada.
Ku sudah lewati setapakmu. Renangi lautmu.
Tidur di tepian kawahmu.
Rasa bersalah itu selalu ada.
Ini perjalananku di duniamu.
Maka maafkan aku.
Ingin ku sampai di sana, dengan bebas merdeka lalu kau tersenyum.
Meski mungkin sekarang kau marah.
Karena aku tlah jatuh jauh di bawah.

Assalamu’alaikum.

Saya sering mendengar kata yang digunakan di atas — judul blog ini maksud saya, bukan kata salam yang saya gunakan —, namun tidak pernah benar-benar mengerti makna sebenarnya. Baru saja saya cek di sini [silakan cari sumber lain untuk makna yang lebih dalam] bahwa sama seperti asal katanya, frase tersebut bermakna kemampuan untuk mengerjakan beberapa pekerjaan dalam satu waktu. Hasilnya bisa bagus, buruk, lebih bagus, atau lebih buruk dibandingkan dengan kerja biasa. Salahkan saya jika salah mengartikannya.

Yang jelas, salah satu kebiasaan buruk saya adalah melakukan multitasking itu. Sekarang saja, saya sedang menonton Julie & Julia, masih tersisa cd kedua; memantau perkembangan turnamen bulutangkis di Malaysia lewat livescore, serta tentu saja memikirkan apa yang akan saya tulis di blog ini karena saya sudah terlanjur menulis akan menulis lebih banyak lagi. Ah ya, saya juga belum makan siang.

Secara pribadi saya lebih menyenangi pekerjaan yang dikerjakan satu-satu. Kenikmatannya lebih terasa. Membaca buku sambil mendengarkan music? No way. Membaca buku sambil tiduran? Janganlah. Saya akan lebih senang jika bisa mengerjakan mereka secara terpisah, karena itu tadi, kenikmatannya jadi lebih terasa. Silakan sebut alasan lainnya jika setuju dengan saya.

Tapi terkadang mepetnya waktu — yang bisa terjadi karena berbagai faktor salah satunya kemalasan saya — sering menjadikan waktu yang tersisa itu harus benar-benar dibagi secara teliti untuk begitu banyak pekerjaan yang masih tersisa, bahkan kalau perlu itu tadi: multitasking — makan sambil belajar, mencuci sambil masak, membersihkan kamar mandi sambil mandi, you name it.

Saya biasanya akan menjadikan multi-tasking ini sebagai suatu alarm, bahwa tingkat kemalasan saya sedang tinggi dan harus segera diturunkan. Itu saja.

Mendekati Ramadhan, seharusnya manajemen waktu kita sudah harus lebih baik bukan? Ah ya, I’m using twitter now, you can follow me here.

Selamat siang. Selamat bermultitasking.

Senangnya.

Semoga bisa kembali menulis lebih banyak. See ya.