Menulis Kembali
Pertengahan tahun 2011 lalu, terdorong oleh kekecewaan karena selama ini sulit mencari bahan tulisan kuliah yang memuat kepustakaan yang lengkap — untuk bahan berbahasa Indonesia tentunya, karena untuk bahasa Inggris, alhamdulillah melimpah sekali,— saya membuat website yang saya beri nama kamar-koas. Apa daya, karena kesibukan saat koas dan tentu saja kemalasan yang melimpah, hingga saat ini, ‘rumah’ tersebut bisa dikatakan kosong. Sigh.
Tahun 2012 ini, jika semua berjalan lancar, insyaAllah saya sudah bergelar dokter dan dapat segera melakukan tugas. Di luar dari keinginan saya yang kuat agar menjadi dokter yang baik, saya ingin benar mengurusi kamar-koas dengan lebih layak.
Karena sejak masih berstatus mahasiswa kedokteran, tidak jarang teman-teman dekat bertanya mengenai topik kesehatan, mulai dari yang sekedar bertanya adakah efek samping vitamin C, sampai pada yang membuat saya harus jungkir balik mencari jawabannya, baik di buku, diktat kuliah, dan tentu saja… internet.
Untuk yang terakhir ini saya harus benar-benar bersyukur kepada Allah karena saya hidup di zaman yang internetnya sudah lumayan. Sesungguhnya ketika dokter punya koneksi dengan internet, satu beban berat sudah terangkat karena segala pertanyaan, masalah, teka-teki penyakit, apapun itu, jika dicari dengan sungguh-sungguh — dan tentu saja koneksi jaringan yang baik — akan didapat jawabannya dengan internet.
Oleh karena itu, untuk tahun 2012 ini, saya ingin membuat kamar-koas lebih ‘berisi’, agar bisa membantu para mahasiswa kedokteran lainnya — atau orang awam juga bisa — yang juga ingin belajar. Karena saya merasa benar manfaat suatu situs yang bisa dengan cepat menyajikan materi-materi penting pelajaran. Untuk bisa melakukan hal itu tentu saya butuh tekad yang kuat, hahaha… karena sejauh ini selalu kalah dengan kelelahan setelah aktivitas koas, dan tentu saja bahan tulisan yang banyak dan tertulis dengan benar dan baik.
Kemudian selain merapikan kamar-koas, saya juga ingin kembali menulis cerpen dengan lebih teratur, insyaAllah akan diposting dengan lebih rapi di blog ini. Can’t wait to do that!
Oh ya, jika ada yang ingin menjadi penulis juga di sana, akan diterima dengan senang hati. Mari, di tahun yang katanya akan kiamat ini, kita menulis kembali.
*ditulis untuk lomba blog resolusi juara 2012 yang diprakarsai oleh telkomselspeedy, sebenarnya mau nyelipin sedikit pujian buat speedy tapi karena cuma pernah make satu kali pas di rumah Kakak di Bogor, nggak bisa komen banyak, hehe... Mudah-mudahan tahun ini bisa dapat tempat tinggal yang bisa bikin koneksi internet lebih stabil. Amin.
<a data-cke-saved-href="<a href="http://telkomspeedy.com"">http://telkomspeedy.com"</a> href="<a href="http://telkomspeedy.com"><img">http://telkomspeedy.com"><img</a> data-cke-saved-src="<a href="http://telkomspeedy.com/gambar/blogcontestspeedy.jpg"">http://telkomspeedy.com/gambar/blogcontestspeedy.jpg"</a> src="<a href="http://telkomspeedy.com/gambar/blogcontestspeedy.jpg"">http://telkomspeedy.com/gambar/blogcontestspeedy.jpg"</a> /></a>
Tersesat
Dulu, setiap kali membaca majas atau semacamnya yang menyatakan tentang kesepian di tengah keramaian saya biasanya hanya tersenyum sendiri, karena merasa hal tersebut agak berlebihan. Saya selalu berfikir bahwa pada dasarnya setiap orang itu sendiri, sampai kita memutuskan untuk berhubungan dengan orang lain. Jadi default mode-nya itu ya seseorang yang individualis. Menurut saya sih.
Lalu kemudian saya menyadari bahwa pernyataan tersebut tidak sepenuhnya mengungkapkan tentang orang yang merasa kesepian. Bisa jadi ia sedang menjelaskan tentang keramaian. Tentang orang-orang di sekitarnya, yang terasa berbeda dengan dirinya.
Jadi tadi siang, saya ke kampus setelah dari rumah sakit mengantarkan map biru titipan Elpen dan Fadhil, sesampai di sana tidak menemukan wajah yang saya kenali kecuali Bu Ida, seorang pegawai di kampus. Meski ini hari Sabtu, ternyata masih banyak mahasiswa, setelah saya tanya dengan Bu Ida, ada jadwal remedial, kemudian juga ada sih yang memang sedang kuliah, mungkin jadwal tambahan.
Ternyata ada Rina Max dan Linda di lantai 3. Bersyukur karena akhirnya ada yang bisa saya ajak bicara. Beberapa saat kemudian Alfan datang setelah pulang berolahraga, cuma sebentar sih, duduk minum teh botol, tapi cukup membuat saya senang karena merasa tidak sendirian.
Karena entah kenapa, tadi siang itu kampus benar-benar terasa asing, hahaha. Okay, mungkin sedikit berlebihan, karena saya lupa menyebutkan pegawai kantin yang nggak berubah sejak saya masih di kampus. Tapi selain itu, semua asing. Mahasiswa entah tingkat berapa (bisa 08, 09, 10, dan 11, tapi kemungkinan besar 10 dan 11 karena 08 dan 09 masih lumayan familiar) berkeliaran dengan penampilan yang menurut saya berbeda dengan yang biasa saya lihat di angkatan 05 (angkatan saya sendiri). Mulai dari gaya berbusana, bicara, ketawa-ketiwinya, ngerumpinya, pokoknya beda.
Ah, jadi merasa tua sekali, hihi.
Karena sekilas, saat terdengar obrolan mereka yang duduk persis di meja sebelah saya, sama sekali nggak terbayang saya akan ikut dalam perbincangan seperti itu. Nggak punya bahannya, lol.
Sambil berbincang dengan Bu Ida dan Rina, saya seperti melihat kilas balik saat masih di kampus, akhir 2005-akhir 2009…
Saat mahasiswa/i masih menggunakan pakaian yang sederhana untuk kuliah, bukan kerudung gaul penuh bling-bling, bukan celana jeans yang modelnya anyar semua.
Ketika di musholla masih banyak yang ngumpul, sekedar duduk atau membaca diktat sambil menunggu azan Zhuhur atau Ashar masuk, atau gerombolan akhwat instant yang tiba-tiba rajin pengajian.
Lalu obrolan di kantin yang terasa wajar karena tidak bergerombolan membentuk geng-geng eksklusif. Saat bebas cekikikan membahas ketololan saat ujian, lalu bergegas merendahkan suara ketika ada senior atau dosen yang lewat.
Atau saat anggota Rohis dengan berani menegur mahasiswa yang pakaiannya terlalu seronok. Membuat tulisan-tulisan yang bisa membuat pembacanya tertohok. Ketika Wakrema membuat lomba yang ramai diikuti. Menyusun pertunjukan yang membuat semua tertawa setengah mati.
Ketika kebersamaan tidak terasa dibuat-buat. Mengalir saja.
Ketika semua masalah yang ada selesai di dalam pagar kampus.
Ketika berbisik-bisik membicarakan nilai adik kelas yang anjlok.
Ketika memutuskan untuk membuat grup bimbingan belajar agar nilai mereka tidak lagi anjlok.
Saat berselisih paham dengan angkatan yang lebih tua.
Ah. Mengingat itu semua, benar-benar meyakinkan saya bahwa ada yang berubah dengan kampus.
Tentu saja, tidak mungkin menginginkan semua orang bertindak seperti saya. Atau angkatan saya. Ini bukan 2005 lagi bung. Hampir 2012 bahkan.
Tapi saya percaya ada batasan-batasan yang bisa diterima oleh semua orang.
Batasan kesopanan. Cara bertingkahlaku. Berpakaian. Saat berpacaran. Bersikap dengan yang lebih tua.
Saya masih ingat benar saat harus melanjutkan sekolah SMP di desa tempat Kakek-Nenek, karena di kampung tempat Ayah-Ibu mengajar hanya ada SD, Ayah berpesan begini:
Mulai sekarang, orang tidak akan melihat kamu sebagai anak Ayah. Anak seorang guru. Tidak ada yang mengenalimu. Mulai sekarang, orang akan mengenalimu sebagaimana kamu bertingkah laku. Jaga diri baik-baik.
Sejak saat itu, jadi kebiasaan menilai orang ya hanya dari personal-nya orang itu. Not their family. Not what they have. But what then can do. What their ability. Not what they are wearing. But what they are talking.
Jadilah saya seseorang yang suka nge-judge and cynical, lol.
Mudah-mudahan apa yang ada dalam fikiran saya sekarang ini keliru. Dan yang ada justru sebaliknya. Amin.
Biarkan Hujan (Menghapus Jejakmu)
Semingguan ini Pekanbaru diguyur hujan setiap sorenya — jika tidak bisa dikatakan sepanjang hari. Memenuhi jadwal, sore ini hujan kembali turun. Mengintip dari balik terali jendela, aku bisa menyaksikan lantai serambi depan yang berkilat basah karena air. Entah mengapa, aku jadi teringat pada awal tahun 2010, ketika aku mengawali kegiatan koas.
Mungkin karena bulan itu juga penuh hujan?
Kurasa bisa jadi begitu. Aku ingat setiap pagi berangkat dengan jaket panjang dan gerimis membasahi rambut. Melompati genangan air dan menghindari percikan kenderaan yang melintas. Bahkan mengingatnya saja, sudah membuatku tersenyum.
Saat kecil, bermain di tengah hujan adalah salah satu sumber kesenanganku. Di tengah padang rumput, belalang-belalang akan berloncatan kesana-kemari seakan mencari tempat perlindungan yang lebih kering. Air menggenang di mana-mana dan karena tanah kampungku adalah tanah liat, segalanya akan jadi lengket. Karena aku tidak punya saudara laki-laki, dan rumahku jauh dari keramaian, biasanya aku melakukannya sendirian. Duduk di tengah lapangan upacara depan SD. Memandangi langit yang mengabur. Merasakan deraan hujan di setiap jengkal kulit yang telanjang. Serta memasang telinga kalau-kalau Ibu memanggilku untuk berhenti main hujan.
Aku tentu sudah tidak melakukan semua itu lagi. Sekarang aku cukup puas dengan menikmati derap hujan yang menjatuhi atap. Tetesannya di setiap tepian rumah. Bau tanah yang dibawanya pada setiap rintik. Bagiku, hujan di suatu tempat, bisa saja berasal dari air di tempat lain. Mereka seperti membawa kisah. Berbagi cerita. Serta membawa pergi apa yang tersisa.
Dan pada setiap tetes hujan yang tertumpah, ada cerita di dalamnya…
Aku pernah menulis puisi yang bertemakan hujan, mungkin lebih dari satu. Tapi akan kupilih satu saja untuk menutup postingan ini.
BULAN KEHUJANANSenja mulai turun, tirainya merah jingga Aku menatap kaca jendelaku yang berembun Kucium bau tanah dan udara yang bercampur pada anginSudah genap seminggu aku tak melihatmu dari kamarku Hujan tlah gantikanmu tuk sirami dedaunan bunga yang kautanam Sesungguhnya aku rinduMalam mulai pekat, menebar dingin Aku mendengar kaca jendelaku yang berisik tertimpa air jatuh Kiranya hujan turun lagiBulan ini basah Bulan ini penuh kehidupan Tapi justru bunga di dalam hatiku yang mengering Sesungguhnya aku rindu untuk melihatmu lagiAku terbangun pada akhir Desember Menyusun kembali segenap sisa mimpi yang tersisa Membuka tirai jendelaku yang lembab Kuharap melihatmu pagi ini Aku rindu melihatmu setiap hari SungguhOriginally posted here
Ada Monroe and W. P. Inman
I just finished reading the book, Cold Mountain by Charles Frazier. I wish it had some kind of ‘search tool’ so I can find my favorite paragraph easily. But never mind, here, some of it. Enjoy.
Inman rose and dressed in his new clothes. He added his Bartram scroll to the knapsack; then he strapped on his packs and went to the tall open window and looked out. It was the dark of the new moon. Ribbons of fog moved low on the ground though the sky was clear overhead. He set his foot on the sill and stepped out the window.
— the shadow of a crow. p26
Sally Swanger, apparently under the sway of Monroe’s champagne as well, had at that moment pulled Ada aside in the hallway and in a whisper said, That Inman boy just got here. I should keep my mouth shut, but you ought to marry him. The two of you’d likely make pretty brown-eyed babies.
Ada had been appalled by the comment and, blushing fiercely, she fled to the kitchen to compose herself.
But there, throwing her thoughts into further disarray, she found Inman alone, sitting in the stove corner. He had arrived late, having ridden through a slow winter rain, and he was warming up and drying out before joining the party. He wore a black suit and sat with his legs crossed, his wet hat suspended from the toe of a dress boot near the hot stove. The palms of his hands were held up to catch the heat of the fire so that he looked like he was pushing something away.
— verbs, all of them tiring. p100.
She squinted at the paper. Inman’s hand being somewhat cramped and minute, all Ada could make clear in the dark was this brief paragraph:
Should you still possess the likeness I sent four years ago, I ask you, please, do not look at it. I currently bear it no resemblance in either form or spirit.
— in place of the truth. p246
Inman still stood with his arms crossed, and Ada reached and touched where his shirt cuff came out from his coat sleeve. She held the cuff between finger and thumb and pulled until she unlocked his arms. She touched the back of his hand, tracing with one finger the curving course of a vein from knuckle to wrist. Then she took his wrist and squeezed it hard, and the feel of him in her hand made her wonder what the rest of him would be like.
— in place of the truth. p258.
I believe I have made a mistake, he said.
He turned to walk away. Go on up to the Shining Rocks and see would they have him. If not, take up Veasey’s quest and walk to Texas or parts even more ungoverned, if such existed. But there was no trail to follow. Ahead of him just trees and snow and his own steps filling fast.
— footsteps in the snow. p405.
Ada looked at the fire. She patted the back of Ruby’s hand where it rested and then Ada picked it up off Ruby’s knee and rubbed the palm of it hard with her thumb until she could feel the cords under the skin. She took off one of her rings and put it on Ruby’s hand and tipped it down to the firelight to look at it. A big emerald set in white gold with smaller rubies around it. A Christmas gift some years ago from Monroe. Ada made motions to leave the ring where she had put it, but Ruby took it off and twisted it roughly back on Ada’s finger.
You don’t need him, Ruby said.
I know I don’t need him, Ada said. But I think I want him.
Well that’s a whole different thing.
— the far side of trouble. p410
Nothing about the boy moved but his hand, and it moved quicker than you could see.
Inman suddenly lay on the ground.
The boy sat and looked at him and then looked at the pistol in his hand and said, They God. As if he had not reckoned at all on it functioning as it had.
— spirits of crows, dancing. p444.
